JAKARTA – Puspen Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) belum lama ini, mengundang seluruh kefungsian perpustakaan dan kefungsian perencanaan Pemerintah Provinsi yang ada di Indonesia. Tak hanya itu, Kemendagri juga mengundang beberapa daerah lainnya setingkat kotamadya dan kabupaten.
Beberapa l daerah tersebut, menjadi undangan asistensi program urusan perpustakaan yang digelar oleh Kemendagri di Jakarta. Untuk Propinsi Jawa Barat, diwakili oleh 4 Kab/ Kota. Adapun empat daerah yang mendapat undangan, yakni Kota Bandung, Kota Bekasi, Kota Depok dan Kabupaten Purwakarta.
Tak hanya kefungsian perpustakaan, kefungsian perencanaan yang ada di Bapelitbangda atau Bapenda, juga di hadir dalam acara tersebut.
Dalam acara itu, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Disarpusda) Kabupaten Purwakarta, Asep Supriatna, mendapat kesempatan untuk memaparkan mengenai program dan kondisi terkini kefungsian perpustakaan di Kabupaten Purwakarta.
Asep juga memaparkan soal perubahan jargon perpustakaan, yang kini mengusung tema hade tagog hade gogog.
Rupanya, pemaparan dari Kadisarpusda ini mendapat atensi dari pemerintah pusat, dalam hal ini Puspen Kemendagri.
Pustakawan Ahli Madya Pusat Penerangan Kementerian Dalam Negeri, Moh Ilham A Hamudy, mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi pemaparan yang yang dilakukan Kepala Dinas Arsip dan PerpustakaanKabupaten Purwakarta, Asep Supriatna.
Dalam laparan tersebut, dapat memberikan motivasi kepada para kepala dinas lainnya. Terutama dalam membangun perpustakaan daerah.
“Terkait hal itu, ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya. Pertama, jargon hade tagog hade gogog ini sangat tepat untuk menggambarkan komitmen dinas dalam memprioritaskan alokasl anggaran,” ujar Ilham.
Menurutnya, fokus pada perbaikan infrastruktur, termasuk renovasi gedung dan peningkatan fasilitas, menunjukkan upaya nyata untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan menarik bagi pengunjung.
Dengan begitu, upaya tersebut dapat memberikan daya ungkit bagi pembangunan tingkat kegemaran membaca (TGM) dan indeks pembangunan literasi masyarakat (IPLM) di Purwakarta.
Kedua, apresiasi juga ditujukan pada program penambahan koleksi buku yang diinisiasi dari minat masyarakat terhadap buku-buku yang ada di toko buku. Ini menjadi langkah penting untuk meningkatkan minat masyarakat Purwakarta, untuk mengunjungi perpustakaan, dibandingkan dengan membeli buku di toko buku.
“Kemudian, berbagai program inovatif juga diciptakan seperti layanan-layanan yang dapat mendorong budaya literasi dan kegemaran membaca menjadi lebih baik,” ujar Ilham.
Selain apresiasi, pihaknya memberikan catatan yang patut cermati oleh Pemkab Purwakarta terutama Disarpusda. Salah satunya, mengenai realisasi anggaran kurang dimaksimalkan.
Karena realisasinya hanya 86 persen. Selain itu, pembelanjaan buku-buku yang difokuskan untuk keterampilan masyarakat dalam menunjang TPBIS perlu ditinjau ulang.
“Saya menyarankan, perlu dilakukan survei kebutuhan pemustaka. Ini penting untuk memastikan penambahan koleksi buku dan bahan bacaan lainnya, benar-benar sesuai dengan apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh pengguna perpustakaan,” jelasnya.
Selain itu, perlu adanya survei. Mengingat, survei ini dapat membantu mengidentifikasi genre atau jenis buku yang paling diminati. Sehingga anggaran untuk pembelian buku bisa digunakan secara lebih efisien dan efektif.
Saran lainnya, yakni mengenai peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Terutama pustakawan yang mana juga patut menjadi prioritas.
Pustakawan yang terlatih dengan baik dan memiliki pengetahuan yang luas, dapat memberikan layanan yang lebih baik. Apalagi, dalam hal mengelola program-program literasi yang lebih kreatif dan efektif.
Terakhir, kerja sama dengan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) juga sangat penting untuk menunjang peningkatan TGM dan IPLM. Kolaborasi dengan OPD seperti Dinas Pendidikan, Disnakertrans, hal itu sangat penting.
Misalnya, lanjut Ilham, program literasi di sekolah dapat didukung oleh perpustakaan, dan pelatihan keterampilan yang diadakan oleh Dinas Ketenagakerjaan dapat menggunakan fasilitas perpustakaan sebagai tempat pelatihan.
“Dengan begitu,saya yakin Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Purwakarta dapat lebih efektif dalam meningkatkan literasi dan minat baca masyarakat, sejalan dengan jargon hade tagog hade gogog,” jelas Ilham. ***


