Terdapat ribuan nama tempat di Kabupaten Purwakarta, yang meliputi 17 kecamatan, 183 desa dan 9 kelurahan. Termasuk di dalamnya nama kampung, gunung, bukit, lembah, tegal, sungai, dan sebagainya.
Dari nama tempat yang sekian banyak tersebut, diambillah seribu nama tempat secara acak untuk mendapatkan gambaran awal tentang toponimi di Kabupaten Purwakarta.
Dari seribu nama tempat yang dipilih secara acak tersebut, ternyata ada 294 (29,4 persen) nama tempat yang diawali dengan kata “Ci-“. Seperti Cianting, Cibatu, Cibodas, Cibingbin, Ciherang, Cihideung, Cijaya, Cikadu, Cimaung, Ciracas, Citamiang, dan Ciwareng.
Ada anggapan awalan “ci-“ pada nama tempat di Tatar Sunda itu mengandung arti “air”. Tidak salah, walaupun tidak sepenuhnya benar. Awalan “ci-“ di sana juga mengandung arti “tempat dengan ciri spesifik tertentu”.
Nama tempat Cibeureum, misalnya, bisa berarti “tempat yang airnya merah”, bisa juga “tempat yang tanahnya merah”. Arti yang kedua berpadanan dengan “Tanah Merah”, “Tanah Abang”, atau “Lemah Abang”. Begitu pula dengan Cibatu. Bisa mengandung arti “air yang mengalir dari sela-sela bebatuan” atau “tempat yang mempunyai ciri spesifik banyak bebatuan”, dengan kata lain “tempat yang berbatu-batu”.
Anggapan bahwa Tatar Sunda subur dengan air, juga anggapan bahwa kehidupan urang Sunda tak bisa dilepaskan dari air, memang tidak salah. Ketika akan membangun rumah, misalnya, urang Sunda (dulu) yang kali pertama dilakukannya adalah menentukan tempat air, tempat untuk membuat sumur (“pisumureun”).
Pentingnya air bagi urang Sunda, tampak juga ketika akan mendirikan pemukiman atau kampung adat. Yang dicari adalah lokasi yang mudah mendapatkan air. Kalau tidak di dekat sungai, situ, atau mata air; ya di daerah yang mudah untuk mengalirkan air, misalnya dengan membuat “susukan” (sungai buatan).
Urang Sunda membedakan “walungan” dengan “susukan”. “Walungan” atau disebut juga “wahangan” adalah sungai alam. Sedangkan “susukan” adalah sungai “meunang nyusuk”, sungai hasil galian (“nyusuk” berarti menggali). “Susukan” adalah sungai buatan, yang dibuat untuk kepentingan memenuhi air bersih di perkampungan atau mengairi tanah pertanian. Jika aliran airnya kecil disebut “solokan”, yang lebih kecil lagi disebut “kamalir”.
Untuk membangun “dayeuhan” (kota) baru, pun yang kali pertama dicari adalah lokasi yang tidak jauh dari sumber air. Termasuk Purwakarta. Titik awalnya tidak jauh dari “pangguyangan badak” yang kini dikenal dengan nama Situ Buleud.
Badak, yang dalam bahasa Sunda disebut juga “ladog”, menurut kepercayaan urang Sunda, termasuk binatang yang punya insting kuat untuk mencari sumber air. Mereka suka “ngaladog” untuk sekadar “guyang” ke daerah-daerah yang kaya akan sumber air. Itulah sebabnya “pangguyangan badag” kerap menjadi titik awal sebuah kota. Tak hanya Purwakarta, juga Bandung, Cianjur, Tasikmalaya, dan banyak lagi; pendirian kotanya bersinggungan dengan “pangguyangan badak” ini.
Nama Tempat Ci- dengan Ciri Spesifik
Nama tempat yang dipergunakan merupakan rupabumi, keadaan faktual di daerah tersebut, atau yang pernah ada di sana, baik benda; peristiwa; atau hal; yang kemudian menjadi ciri spesifik dan penanda tempat tersebut yang membedakan dengan tempat lainnya agar mudah dikenali.
Misalnya di Desa Cicadas Kecamatan Babakancikao, ada tempat yang ditumbuhi pohon asam (“asem”) yang menjadi ciri spesifik di sana, maka tempat itu dinamai Ciasem. Tak jauh dari sana, masih di Kecamatan Babakancikao, ada tempat yang mempunyai ciri spesifik pohon gelam, maka dinamai Cigelam. Dan kini menjadi nama desa di Kecamatan Babakancikao.
Di Kabupaten Purwakarta terbilang banyak tempat yang mempunyai ciri spesifik pohon, baik pohon besar maupun pohon kecil.
Yang termasuk pohon besar, antara lain: Cibihbul (Wanasari, Wanayasa), Cibingbin (Cibingbin, Bojong), Cibinong (Cibinong, Jatiluhur), Cidadap (Cijaya, Campaka), Cibungur (Cibungur, Bungursari), Cikawung (Taringgul Tengah, Wanayasa), Cilangkap (Cilangkap, Babakancikao).
Kemudian ada Cihanjawar (Cihanjawar, Bojong), Cihuni (Cihuni, Pasawahan), Cijambe (Cisalada, Jatiluhur), Cijambu (Pasirjambu, Maniis), Cikalapa (Cibukamanah, Cibatu), Cikadu (Cikadu, Cibatu), Cikopo (Cikopo, Bungursari), Cimanggu (Parungbanteng, Sukasari), Cimuncang (Nagrog, Wanayasa), Cinangka (Cinangka, Bungursari), Cipicung (Cipicung, Sukatani), Ciwareng (Ciwareng, Babakancikao), dan Ciwaru (Gununghejo, Darangdan).
Selanjutnya ada Cijati (Cijati, Maniis), Cijeungjing (Taringgul Tonggoh, Wanayasa), Cijunti (Cijunti, Campaka), Cikananga (Cikumpay, Campaka), Cikao (Cikaobandung, Jatiluhur), Cikiara (Wanakerta, Bungursari), Cikiray (Nagrak, Darangdan), Cikondang (Mekarsari, Darangdan), Cikopak (Cikopak, Babakancikao), Cipetir (Liunggunung, Plered), Cipeundeuy (Cipeundeuy, Bojong), Cipurut (Wanayasa, Wanayasa), Cipeuteuy (Cilegong, Jatiluhur), Ciputat (Kutamanah, Sukasari).
Lalu ada Cibaros (Bojong Timur, Bojong), Cidahu (Cidahu, Pasawahan), Cigebang (Sukamaju, Sukatani), Cikananga (Cikumpay, Campaka), Cikokosan (Gununghejo, Darangdan), Cilame (Cibening, Bungursari), Cilimus (Panyindangan, Sukatani), Ciloa (Gardu, Kiarapedes), Cimanglid (Sukatani, Sukatani), Cinangsi (Cisalada, Jatiluhur), Cipinang (Cipinang, Cibatu), Cisaninten (Cilingga, Darangdan).
Yang termasuk tanaman kecil, antara lain: Cieurih (Galumpit, Tegalwaru), Cigadung (Pondokbungur, Pondoksalam), Ciharashas (Nagritengah, Purwakarta), Cijoho (Sinargalih, Maniis), Cipulus (Nagrog, Wanayasa), Cileunca (Cileunca, Bojong), Cisalada (Cisalada, Jatiluhur), Cisalak (Cisalada, Jatiluhur), Ciseureuh (Ciseureuh, Purwakarta).

Gambar : Sungai Ciherang, salah satu sungai di Kabupaten Purwakarta.
Kemudian ada Cibolang (Cibogogirang, Plered), Cicariu (Nagrak, Darangdan), Cihonje (Ciramahilir, Maniis), Cikanyere (Salammulya, Pondoksalam), Cikembang (Kembangkuning, Jatiluhur), Cikumpay (Cikumpay, Campaka), Cisaga (Sukamulya, Tegalwaru).
Catatan: “kumpay” adalah pohon sejenis benalu seperti kadaka, yang daunnya panjang. Itulah sebabnya ikan (mas, nila slayer) yang bersirip dan berekor panjang disebut “lauk kumpay”.
Jenis bambunya ada Ciater (Ciparungsari, Cibatu), Ciawitali (Ciawi, Wanayasa), Cibuluh (Citamiang, Maniis), Cigembong (Tanjungsari, Pondoksalam), Cigombong (Cikeris, Bojong), Cihaur (Sadarkarya, Darangdan), Cirateun (Kertajaya, Pasawahan), dan Citamiang (Citamiang, Maniis).
Jika tempat tersebut ada kaitannya dengan binatang, dinamai dengan ci- plus nama binatang tersebut. Contohnya: Cibadak (Sukamukti, Maniis), Cikidang (Pamoyanan, Plered), Cikuda (Karyamekar, Cibatu), Cilandak (Cilandak, Cibatu), Cilutung (Wanakerta, Bungursari), Cimaung (Ciwangi, Bungursari), Cipeucang (Gandasoli, Plered), Cipeusing (Bojong Barat, Bojong).
Nama burung: Ciheulang (Margaluyu, Kiarapedes), Cijulang (Sirnamanah, Darangdan), Cikerak (Sindanglaya, Sukatani), Cirangkong (Cirangkong, Cibatu).
Nama binatang amfibi dan ikan: Cibayawak (Bénténg, Campaka), Cibangkong (Bungurjaya, Pondoksalam), Cibogo (Cibogogirang, Plered), Cijeler (Sindangsari, Bojong), Cikeuyeup (Citalang, Purwakarta), Cikuya (Kembangkuning, Jatiluhur), Cilele (Pasanggrahan, Tegalwaru), Cileungsing (Wanayasa, Wanayasa), Ciparay (Sukajadi, Pondoksalam).
Yang ada kaitannya dengan rupabumi dan keadaan alamnya, antara lain: Cibatu (Cibatu), Cibeber (Cibeber, Kiarapedes), Cibodas (Cibodas, Bungursari), Cicadas (Cicadas, Babakancikao), Cihideung (Ciseureuh, Purwakarta), Cilebak (Kiarapedes, Kiarapedes), Cinutug (Depok, Darangdan), Cirata (Tegalwaru, Tegalwaru).
Jika di tempat tersebut ada air membuncah (“ngaburial”), dinamai Ciburial (Wanayasa, Wanayasa), atau seperti yang bergolak (“ngabubulak”) disebut Cibulakan (Babakan, Wanayasa). Airnya tampak keluar dari sela-sela pepohonan (“seke”) disebut Ciseke (Cibeber, Kiarapedes). Jika airnya tampak bening disebut Cibening (Cibening, Bungursari) atau Ciherang (Nagrog, Wanayasa).
Jika air yang keluarnya panas disebut Cipanas (Ciracas, Kiarapedes). Sebaliknya jika dingin disebut Citiis (Cimahi, Campaka). Jika air yang mengalir kecil disebut Cileutik (Mekarsari, Darangdan). Sebaliknya jika air keluarnya besar dinamakan Cigede (Cibukamanah, Cibatu). Sedangkan mata air yang airnya tak pernah kering biasanya disebut Cikahuripan (Kiarapedes, Kiarapedes).
Di tempat itu ada kandang kuda (“gedogan”) dinamailah Cigedogan (Sindangkasih, Purwakarta). Ada kantor dan gudang Belanda (“loji”) disebut Ciloji (Kiarapedes, Kiarapedes). Lokasi kincir dinamai Cikincir (Nagrikidul, Purwakarta). Selokan yang berfungsi untuk kebutuhan jamban keluarga menak jaman dahulu disebut Cijamban (Wanayasa, Wanayasa).
Yang berkaitan dengan logam, senjata, atau perkakas juga ada. Antara lain: Cianting (Cianting, Sukatani), Cibeusi (Linggamukti, Darangdan), Cigangsa (Campakasari, Campaka), Cigobang (Linggasari, Darangdan), Cigoong (Salem, Pondoksalam), Cikeris (Cikeris, Bojong), Cikolotok (Margasari, Pasawahan), Cilingga (Cilingga, Darangdan), Cilodong (Cibungur, Bungursari), Cipariuk (Tajursindang, Sukatani), Cisabuk (Mekargalih, Jatiluhur), Cisair (Sakambang, Wanayasa), dan Citeko (Citeko, Plered).
Yang berkaitan dengan pertukangan juga, misalnya: Cigosali (Taringgul Landeuh, Kiarapedes), Cikamasan (Wanayasa, Wanayasa), Cipalédang (Wanayasa, Wanayasa), dan Cipanday (Cimahi, Campaka).
Nama-nama tempat tersebut mempunyai latar belakang dan kisah yang menarik. Bahkan ada kalanya nama yang sama di daerah yang berbeda mempunyai kisah yang berbeda pula.
Penulis: Budi Rahayu Tamsyah


