Normaal School (NS) didirikan pada tahun 1914 dan digunakan selama kurun waktu 1914-1928. Setelah Normaal School dibubarkan pada tahun 1928, maka sejak 1928-1940, Asrama 1 digunakan untuk tempat pertemuan dan olah raga, Asrama 2 digunakan untuk klinik, Asrama 3 digunakan untuk Kantor Kehutanan, Aula digunakan untuk Pengadilan Negeri dan bangunan-bangunan lainnya digunakan untuk perumahan orang-orang Belanda.

 

Jaman Belanda 1920-1942

  1. Tahun 1920-an didirikan Europese Lagere Schhol (ELS) di Purwakarta selain Hollands Inlandse School (HIS) dan Normaal School (NS) yang sudah ada.
  2. Tahun 1928 dibuka Schakel School (SS)
  3. Akhir tahun 1920-an terdapat Meisjes Kop School (MKS); 2 sekolah swasta, 1 sekolah China, sekolah agama Islam khusus Arab dan 24 sekolah desa.
  4. Kursus Guru Sekolah Desa

 

Jaman Jepang 1942-1945

  1. Sekolah Rakyat (SR) atau Kokumin Gakko (KG) dibuka di Purwakarta dan desa-desa yang dahulu terdapat Sekolah Dasar Kelas Satu atau Eerste School (ES) dan Kelas Dua atau Tweede School (TS).
  2. Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Shoto Chu Gakko (SCG) dibuka kembali September 1942.
  3. Sekolah Guru (SG) atau Sihan Gakko (SG) yang semula bernama Hollandsch Inlandsche Kweek School (HIK) dibagi 3 tingkatan:

 

  • Sekolah Guru 2 tahun atau Shoto Sihan Gakko (SSG)
  • Sekolah Guru 4 tahun atau Guto Sihan Gakko (GSG)
  • Sekolah Guru 6 tahun atau Koto Sihan Gakko (KSG)

 

Pada tahun 1942-1943 bekas Normaal School pernah digunakan untuk markas bala tentara pendudukan Jepang (Dai Nippon), kemudian setelah markas bala tentara pendudukan Jepang dipindahkan ke Kantor Karesidenan (Honbu), maka atas prakarsa Engku Soendoro didirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Shoto Chu Gakko (CG) bertempat di lokasi Normaal School (NS) tersebut dan digunakan mulai 11 Oktober 1943 sampai dengan 21 Juli 1947. Sejak 21 Juli 1947 – 27 Desember 1949 digunakan sebagai markas tentara pendudukan Belanda.

 

Jaman Kemerdekaan (1945 – sekarang)

Pada tahun 1950 didirikan Sekolah Guru B 1 (SGB 1, 4 tahun). Pada tahun 1956 didirikan Kursus Pengantar Kepada Kewajiban Belajar (KPKKB) setelah SD. KPKKB diubah menjadi SGB 2 dan pada tahun 1958 SGB 1 digabungkan dengan SGB 2. Kemudian pada masa itu ada Persamaan Sekolah Guru B (4 tahun, sesudah SD).

Pada tahun 1960  didirikan Sekolah Guru A (SGA, 6 tahun). Pada tahun 1961 SGB dibubarkan. Kemudian pada masa itu ada Persamaan Sekolah Guru A (PSG, 3 tahun, sesudah SMP). Pada tahun 1967 SGA menjadi didirikan Sekolah Pendidikan Guru (SPG, pagi) dan Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP, sore).

Hingga terjadi alih fungsi yang dimulai sejak tahun 1989 dan berakhir tahun 1990 menjadi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Institut Keguruan dan ilmu Kependidikan (PGSD IKIP) dan kemudian menjadi bagian dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sesudahnya.

Pada lain jenjang, Sekolah Rakyat (SR) atau Kokumin Gakko (KG) yang telah dibuka di Purwakarta pada masa penjajahan Jepang (1942-1945), maka setelah Indonesia merdeka, SR berubah menjadi Sekolah Dasar (SD) pada tanggal 13 Maret 1946, meskipun istilah “SR” selalu digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Kemudian pada tahun 1960-an – 1970-an ada sebuah kebangaan karena nama SD kita memakai nama depan “Purwa”, seperti:

  1. Purwa Asri
  2. Purwa Ayu
  3. Purwa Dangdan
  4. Purwa Dangde
  5. Purwa Dewi
  6. Purwa Endah
  7. Purwa Gaya
  8. Purwa Kasih
  9. Purwa Laksana
  10. Purwa Linuwih
  11. Purwa Luhur
  12. Purwa Luyu
  13. Purwa Manah
  14. Purwa Mantri
  15. Purwa Medal
  16. Purwa Mekar
  17. Purwa Moyan
  18. Purwa Nata
  19. Purwa Niis
  20. Purwa Nyacab
  21. Purwa Raharja
  22. Purwa Sari
  23. Purwa Sasmita.
  24. Purwa Sastra
  25. Purwa Tani

 

Ada kekecualian pada SD Ampera 1 dan 2. Kemudian pada sekitar tahun 1977, nama SD di Kecamatan Purwakarta diganti menjadi nama-nama jalan di Kecamatan Purwakarta, misalnya Jenderal Sudirman, Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Basuki Rahmat, Kolonel Kornel Singawinata (Singawinata saja), Kapten Halim dengan masing-masing nomor 1, 2, 3, 4 dan seterusnya yang intinya mengambil nama Pahlawan Nasional. Sedangkan di luar Kecamatan Purwakarta tetap dengan nama desa dan nomor urutnya.

Kemudian setelah itu sebelum tahun 2011,  nama SD di Kecamatan Purwakarta diganti sesuai nama kelurahan, misalnya Nagrikaler, Nagritengah, Nagrikidul dan sebagainya dengan masing-masing nomor 1, 2, 3, 4 dan seterusnya. Sedangkan di luar Kecamatan Purwakarta tetap dengan nama desa dan nomor urutnya.

Beberapa tahun terakhir ini (kira-kira kalau tidak salah antara 2014-2016) ada Keputusan Bupati Purwakarta Nomor: 422.5/2670a/Disdik tentang Penetapan Nama Pada Setiap Satuan Pendidikan Negeri di Kabupaten Purwakarta. Sudah barang tentu ini adalah inistif dari Bupati Purwakarta yang kemudian ditindaklanjuti dengan usulan Daftar Nama Pengganti Nama SMAN/SMKN/SMPN/SDN di Kabupaten Purwakarta yang berasal dari tim yang terdiri dari:

  1. Dr. Hj. Nina Herlina Lubis, M.S.
  2. Undang Ahmad Darsa, M.Hum. dan
  3. Miftahul Falah, M.Hum.

Kita malah dibingungkan dengan nama-nama sekolah (SD, SMP, SMA dan SMK) yang kemudian malah ditambahi lagi dengan nama-nama dari dunia pewayangan (?), nama-nama raja di Tatar Sunda jaman baheula alias tempo doeloe, baik dari Kerajaan Sunda, Pajajaran, Galuh Pajajaran maupun Pakuan Pajajaran, Sumedang Larang dan lain-lain.

Juga nama-nama dalem/adipati/bupati/patih/wedana atau isteri pejabat dan lain-lain yang campur aduk dengan asal-usulnya, misalnya tokoh pejabat tempo doeloe dari Kabupaten Galuh (Ciamis sekarang) dan Kabupaten Karawang.

Sebahagian besar masyarakat di Purwakarta, tentu saja tidak banyak mengenal nama-nama itu. Tentu saja karena nama dan jabatannya pun kebanyakan pejabat rendahan pada masa lalu atau masa feodalisme (masa VOC dan pemerintahan kolonial Hindia Belanda). Di samping nama resmilah yang akan dipakai dalam berbagai dokumen resmi, seperti buku raport sekolah, ijasah sekolah, surat-surat keterangan dan lain-lain.

Sebaiknya, cobalah jika bisa nama-nama sekolah yang sudah banyak “salah kaprah” itu diganti saja dengan nama berawalan “Purwa” dan ditambah di belakangnya dengan kata sifat dalam bahasa Sunda. Seperti pada jaman dahulu era 1960-an – 1970-an. Atau nama-nama Pahlawan Asli Purwakarta, termasuk nama para Bupati Karawang di Karawang, Wanayasa dan Sindangkasih (Purwakarta), Bupati Purwakarta di Subang dan Bupati Purwakarta di Purwakarta dari yang pertama sampai yang terakhir.

(R.M.A. AHMAD SAID WIDODO, Peneliti dan Penulis Sejarah Purwakarta).

Ayo ke Diorama !

Ingin tahu seperti apa isi Bale Panyawangan Diorama. Yuk kita ke Diorama Purwakarta dan Diorama Nusantara !