Air terjun adalah istilah rupabumi (geografis) yang dalam bahasa Sunda disebut “curug”, yakni “air sungai yang turun ke dalam jurang”. Dalam bahasa Sunda diawali dengan kata “curug”.
Air terjun dianggap sebagai kekayaan alam, yang memang lazimnya indah. Oleh karena itu kerap dijadikan obyek pariwisata. Bahkan beberapa di antaranya menjadi destinasi wisata andalan.
Air terjun yang kali pertama dikenal sebagai destinasi wisata adalah Curug Cipurut di Kampung Cileungsing, Desa Wanayasa (Kacamatan Wanayasa). Kemudian Curug Tilu di Desa Ciririp (Sukasari), Curug Suhada di Desa Sindanglaya (Sukatani), dan Curug Ciseoh di Desa Cihanjawar (Bojong).
Padahal air terjun di Kabupaten Purwakarta cukup banyak. Yang tercatat ada 19 air terjun di berbagai daerah. Jika termasuk juga dengan air yang berada di sekitar Kabupaten Purwakarta atau aksesnya lebih dekat ke wilayah Purwakarta, bisa lebih dari 25 air terjun. Misalnya Curug Cijalu di Seranganjang (Subang).
Di Kecamatan Sukasari, selain Curug Tilu, ada juga Curug Cicondong dan Curug Mahrom di Desa Sukamanah. Kemudian ada Curug Cimata Indung di Desa Sukasari.
Sedangkan Curug Walanda, berada di Desa Sukamukti, Kecamatan Maniis.
Di Kecamatan Sukatani, tak jauh dari Curug Suhada ada Curug Pari dan Curug Paciungan. Ketiganya berada di Desa Sindanglaya.
Curug Cisomang berada di Desa Depok (Darangdan). Begitu pula dengan Curug Gandasoli yang terletak di Desa Gandasoli (Darangdan).
Di Kecamatan Bojong terbilang banyak air terjun. Terutama di Desa Cihanjawar, yang berada di lereng Gunung Burangrang dan berbatasan langsung dengan hutan Gunung Burangrang.
Yang terbilang dekat dengan perkampungan, yakni Curug Curug Ciseoh. Sangatlah wajar jika sekarang mulai banyak dikunjungi wisatawan. Masih di Desa Cihanjawar, ada Curug Bedul, Curug Maurni, dan Curug Cihanjawar yang disebut juga Curug Cinyawar.
Tak jauh dari sana ada Curug Panembahan di Desa Pasanggrahan, tetangga Desa Cihanjawar di Kecamatan Bojong.
Sementara itu di Kecamatan Wanayasa, baru Curug Cipurut yang sudah banyak dikenal. Padahal tak jauh dari sana, ada Curug Cimanahrasa. Kemudian di atasnya ada Curug Gede dan Curug Cisasarap.
Baru-baru ditemukan air terjun baru di Kiarapedes, yang oleh masyarakat setempat disebut Curug Sirampog.
Nama Curug Cipurut, mudah ditebak, karena di sana ada atau banyak pohon purut yang menjadi ciri spesifiknya. Curug Cisomang, karena berada di aliran Sungai Cisomang. Begitu pula dengan Curug Cicondong yang berada di Sungai Cicondong.
Disebut Curug Tilu, karena air terjunnya terdiri dari tiga tingkat. Dinamai Curug Seoh, karena terdengar suara “seoh” air terjunnya dari jauh.
Sedangkan Curug Maurni, karena dulunya ada perempuan orang Cihanjawar yang suka berkebun dan “nyaung-nyaung” di sekitar air terjun tersebut. Namanya Ma Urni.
Curug Bedul, karena di dekat air terjun tersebut ada atau banyak babi hutan, yang oleh orang Sunda disebut”bedul”. Sedangkan Curug Walanda, karena dulunya sering menjadi persembunyian pribumi yang dikejar-kejar tentara Belanda.
Masih banyak air terjun yang masih harus diteliti asal-usul namanya. Antara lain nama-nama Curug Cimata Indung, Curug Mahrom, Curug Paciungan, Curug Cimanahrasa, dan Curug Sirampog.
Bagaimanapun toponimi bisa menjadi salah satu daya tarik destinasi wisata suatu tempat. Erat kaitannya dengan kearifan lokal daerah tersebut. Oleh karena itu, jangan sembarangan mengganti nama tempat. Apalagi dengan nama yang “tak nyambung” dengan sejarah dan keadaan tempat tersebut.
Penulis: Budi Rahayu Tamsyah


