Siapa yang tak mengenal keramik, sebuah hasil karya seni kerajinan tangan (kriya) yang kemudian menjadi cabang seni tersendiri yang disebut sebagai seni keramik. Dan berbicara keramik tak bisa dipisahkan dari Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta.
Secara toponimi nama Plered, dapat kita temukan juga nama Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Provinisi Jawa Barat dan Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Secara toponimi pula nama Anjun, sebuah desa di Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta, dimana banyak terdapat pengrajin keramik, dapat kita temukan juga nama Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Provinsi Jawa Barat.
Demikian pula halnya keberadaan Desa Karoya di Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Purwakarta dapat kita temukan juga nama Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, Provinisi Jawa Barat dan Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah.
Barangkali ada benarnya pendapat sejarawan yang mengatakan ada hubungan yang erat dengan adanya penyerangan pasukan Kesultanan Mataram Islam di bawah Sultan Agung Hanyokrokusumo ke Batavia pada tahun 1628-1629, yang mana pasukannya juga berasal dari beberapa nama wilayah yang disebutkan di atas. Wallahu ‘alam bishawab.
Sejarah Plered pada umumnya sangat panjang karena menyangkut perubahan wilayah dan administrasi wilayah serta jejak sejarah perjuangan bangsa di wilayah ini.

Foto pengrajin keramik Plered, Purwakarta sedang sedang membuat keramik dengan tekun. Mulai ada pada tahun 1905.
Meskipun belum diketemukan sumber sejarah resmi, namun beberapa catatan menyebutkan, bahwa industri keramik di Plered sudah ada sekitar tahun 1795, empat tahun sebelum VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie, Kompeni) dibubarkan pada tanggal 31 Desember 1799. Hal itu dimulai dengan adanya pabrik-pabrik skala industri kecil, yang disebut lio, berupa pembuatan batu bata dan genteng.
Pada tahun 1904, menurut informasi Darma Kapal, pada masa ini sudah dibuat gerabah kasar untuk kebutuhan alat rumah tangga, seperti tempayan, periuk dan paso. Tokoh pengrajinnya dikenal bernama Ki Dasjan, Sarkun, Asli, Entas Wareya dan lain-lain.
Pada tahun 1935, gerabah menjadi industri rumah tangga, seorang warga Belanda di Plered mendirikan pabrik pertama gerabah dengan nama Hendrik De Boa di sekitar Kampung Warung Kandang.
Pada masa 1942-1945 kerajinan keramik Plered mengalami sedikit banyak gangguan karena banyak penyerapan tenaga kerja paksa pada masa pendudukan bala tentara Jepang yang disebut Romusha yang mengakibatkan kemunduran dan pengurangan produksi. Sedangkan nama pabrik Hendrik de Boa diganti nama menjadi Kaki Kojo.

Foto para pengrajin keramik Plered, Purwakarta sedang menjemur keramik hasil kerajinan tangan mereka. (Sumber Foto: Koleksi Leiden University Libraries).
Pada masa 1945-1949 terjadi perang kemerdekaan, daerah Plered dan sekitarnya menjadi wilayah perang gerilya, beberapa nama tokoh militer diantaranya adalah: Umar Wirahadikusumah, Nasuhi, Muchtar, Sahdi, Sumarna dan lain-lain, salah seorang tokoh masyarakat yang sangat disegani pada masa itu adalah R. Mangkudiredja, seorang jawara atau jagoan pencak silat. Pada masa ini industri keramik Plered juga mengalami gangguan akibat perang gerilya dan seringnya patroli tentara Belanda masuk ke wilayah Plered.
Pada tanggal 05 Juli 1952, Wakil Presiden Republik Indonesia, Drs. Mohammad Hatta berkunjung ke Purwakarta dalam rangka memenuhi undangan pernikahan puteri Muhammad Mukmin, Residen Jakarta berkedudukan di Purwakarta. Muhammad Mukmin ini adalah ayah kandung Letnan Kolonel Muffreni Mukmin, salah seorang tokoh PETA dan pejuang.
Apabila kita mengunjungi Kantor Cabang Bank BNI Cabang Cikampek di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Cikampek, Karawang, maka kita dapat jumpai patung dada dari Letnan Kolonel Muffreni Mukmin, Letnan Kolonel Suroto Kunto (yang gugur di Warungbambu, Karawang) dan Letnan Kolonel Sadikin.
Kemudian pada tanggal yang sama meninjau dan meresmikan Induk Perusahaan Keramik Plered yang berlokasi di Desa Anjun, Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta sekarang.

Foto Sebuah toko keramik di Plered.
(Sumber Foto: Koleksi Leiden University Libraries dan Troepenmuseum).
Pada masa 1950-1968 wilayah Kecamatan Plered lama kelamaan dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1968 dimasukkan ke dalam wilayah Kawedanan Purwakarta yang menjadi cikal bakal berdirinya Kabupaten Purwakarta. Wilayah Kecamatan Plered meliputi wilayah Kecamatan Plered sekarang ditambah dengan wilayah Sukatani, Tegalwaru dan Maniis, dimana setelahnya wilayah-wilayah ini menjadi wilayah kecamatan yang berdiri sendiri.
Pada masa 2002 setelah lahirnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, maka oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta dibentuklah sebuah lembaga pemerintah bernama Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Penelitian dan Pengembangan Keramik (Litbang Keramik), Plered.
Pada tahun 2019, unit ini diubah kembali menjadi UPTD Sentra Pengembangan Keramik, Plered. Hasil produksi pengrajin keramik ini sangat beragam, selain keramik juga aneka jenis dan bentuk genteng serta batu bata yang mulai dipermodern dengan teknologi modern serta banyak diminati oleh wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Dari 16 desa di Kecamatan Plered, 10 di antaranya menjadi sentra produksi keramik.
R.M.A. AHMAD SAID WIDODO, Peneliti dan Penulis Sejarah Purwakarta).


