Ternyata di Kabupaten Purwakarta ada beberapa desa yang mempunyai nama kembar. Jika saja tidak disebutkan kecamatan dan kode posnya, akan membuat tersesat pengirim paket.

Misalnya saja nama Desa Citalang. Ada di Kecamatan Tegalwaru dan Kecamatan Purwakarta. Kebetulan, Desa Citalang adalah satu-satunya desa yang belum menjadi kelurahan di Kecamatan Purwakarta.

Di Kecamatan Tegalwaru ada Desa Pasanggrahan, sama dengan di Kecamatan Bojong. Sementara Kampung Pasanggrahan terdapat di Desa Benteng (Campaka) dan Desa Cilegong (Jatiluhur).

Desa Linggasari terdapat di Kecamatan Darangdang dan Kecamatan Plered. Di Kecamatan Plered juga ada Desa Sindangsari, sama dengan di Kecamatan Bojong.

Desa Linggasari di Kecamatan Bojong merupakan pemekaran dari Desa Cilingga. Sedangkan Desa Sindangsari, masih di Kecamatan Bojong, merupakan pemekaran dari Desa Sindangpanon.

Desa Sindangsari di Kecamatan Plered, juga merupakan desa pemekaran. Namanya mungkin saja diambil dari dua “sindang” yang ada di sana, yang kemudian menjadi berada di desa terpisah, yakni Sindang Aso dan Sindangpalay.

Kata “sari” yang mengandung arti “indah”, “serasi”, “asri”; memang salah satu kata yang terbilang populer untuk menamai tempat baru. Banyak desa baru hasil pemekaran yang diakhiri dengan kata “sari” atau bagian akhirnya diganti dengan kata “sari”.

Contoh pertama, Desa Campaka (Campaka) dimekarkan, desa pemekarannya dinamai Desa Campakasari.

Contoh kedua, Desa Wanayasa (Wanayasa) dimekarkan, desa pemekarannya diberi nama Desa Wanasari. Atau pemekaran Desa Sindangpanon (Bojong), dinamai Desa Sindangsari

Selain kata “sari”, kata “mekar” juga banyak dipergunakan untuk nama desa pemekaran di Kabupaten Purwakarta. Kata “jaya” dan “mulya” juga ada, namun tak sebanyak seperti kabupaten lain di Jawa Barat.

Memberi nama tempat, termasuk nama desa, tak berbeda dengan memberi nama orang. Ada anggapan bahwa nama adalah “doa”. Mungkin si pemberi nama “ngalap berkah” dari nama tersebut, berharap tempat atau desa yang ditinggalinya bertambah “sari”, “mekar”, “jaya”, dan “mulya”.

Tak ada yang salah memang. Cuma pertanyaannya: apakah tidak ada nama lain yang sesuai dengan sejarahnya, keadaan daerahnya, atau ciri spesifik di daerah tersebut?

Memang tidak semua nama tempat yang menggunakan kata-kata di atas adalah nama baru. Hanya umumnya yang memberi nama tempat atau desa bari di Jawa Barat polanya seperti itu.

Di Kabupaten Purwakarta terbilang banyak nama tempat yang menggunakan kata “sari”. Tak semuanya nama baru, mungkin saja sudah sejak lama namanya begitu. Misalnya saja Sukasari (Sukasari), Tanjungsari (Pasawahan), dan Banjarsari (Purwakarta).

Yang tercatat saja ada 48 nama tempat di Kabupaten Purwakarta yang menggunakan kata “sari”. Diperkirakan lebih banyak lagi yang belum tercatat. Mulai dari Banjarsari di Kelurahan Nagrikaler (Purwakarta) hingga Wangunsari di Desa Sawit (Darangdan).

Di antaranya ada Cadassari (Tegalwaru), Bunisari (Plered), Legoksari (Darangdan), Margasari (Pasawahan), Ciparungsari (Cibatu), Campakasari (Campaka), Tanjungsari (Pasawahan).

Kemudian Sumbersari (Kiarapedes), Wanasari (Wanayasa), Sindangsari (Bojong dan Plered), Bungursari, dan Sukasari.

Itu baru nama desa, walaupun belum semua. Nama kampungnya tentu lebih banya lagi. Bahkan ada kalanya satu nama berada di tempat yang berbeda dan berjauhan letaknya.

Misalnya Bunisari. Selain nama desa di Kecamatan Plered, juga nama kampung di Desa Parakanlima (Jatiluhur) dan Desa Bojong Barat (Bojong).

Selain kata “sari”, kata “suka” pun terbilang banyak dipergunakan untuk nama tempat di Purwakarta. Tercatat ada 34 nama tempat yang diawali dengan kata “suka”. Mulai dari Sukaati di Desa Pangkalan (Bojong), hingga Sukatani di Sukatani.

Nama desanya, antara lain Sukadami (Wanayasa), Sukahaji (Tegalwaru), Sukajadi (Pondoksalam), Sukamanah (Bojong), Sukamulya (Tegalwaru), Sukamukti (Maniis), Sukasari, dan Sukatani.
Itu baru nama desanya, dan belum semuanya. Nama kampungnya tentu saja lebih banyak lagi.

Di Purwakarta Kota saja, di antaranya ada Sukahaji di Kelurahan Nagrikidul, Sukamulya di Kelurahan Ciseureuh, Sukarata di Kelurahan Cipaisan, dan Sukasari di Kelurahan Tegalmunjul.

Yang paling banyak digunakan memang nama Sukamaju, Sukamulya, dan Sukasari. Jika mencermati hal itu, ternyata urang Purwakarta suka dan berharap daerahnya maju, mulya dan “nyari”.

Sementara kata “mekar” dipergunakan di sepuluh tempat. Itupun untuk nama desa dan kelurahan. Bisa dipastikan kebanyakan merupakan pemekaran.

Umpanya Désa Mekargalih (Jatiluhur), Desa Mekarjaya (Kiarapedes), Desa Mekarsari (Darangdan), Desa Cadasmekar (Tegalwaru), Desa Gandamekar (Pléréd), Desa Jatimekar (Jatiluhur), dan Desa Kadumekar (Babakancikao).

Selanjutnya ada Desa Karyamekar (Cibatu), Desa Mulyamekar (Babakancikao), dan Kelurahan Purwamekar (Purwakarta).

Sungguh asyik jika nanti nama-nama tersebut ditelisik secara toponimis.

Penulis: Budi Rahayu Tamsyah

Ayo ke Diorama !

Ingin tahu seperti apa isi Bale Panyawangan Diorama. Yuk kita ke Diorama Purwakarta dan Diorama Nusantara !