Ipik Gandamana dilahirkan di Purwakarta, Karawang, Hindia Belanda pada tanggal 30 November 1906 dan wafat di Bandung pada tanggal 06 Agustus 1979 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra Blok D 540, Bandung. Beliau menempuh pendidikan di:

  1. Sekolah Dasar (Europeesche Lagere School, ELS)
  2. Sekolah Menengah Reguler (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, MULO)
  3. Sekolah Persiapan Pegawai Negeri (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren, OSVIA dan juga MOSVIA). Beliau pernah aktif di organisasi Jong Java.

Beliau adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (Ambtenaar) sejak jaman Kolonial Hindia Belanda hingga pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Berbagai jabatan yang Beliau emban adalah sebagai berikut:

  1. Pada tahun 1926 Beliau diterima sebagai seorang Calon Pegawai Negeri Sipil (Candidate Ambtenaar) dan memulai karirnya sebagai Ajudan yang ditempatkan di Bogor selama 2 (dua) tahun.
  2. Mantri Polisi di Cikijing tahun 1931.
  3. Mantri Kabupaten Batavia tahun 1931.
  4. Sekretariat II Kabupaten Ciamis tahun 1938.
  5. Camat Cibeureum, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat tahun 1942.
  6. Pembantu Bupati (Wedana) Ujungberung, Bandung.
  7. Patih Bogor tahun 1946.
  8. Bupati Bogor Ke-1 (1948-1949). Karena menolak bergabung dengan Pemerintahan Belanda – RECOMBA (Regeerings Commissaris Voor Bestuurs Aangelegenheden) di bawah NICA (Nederlands-Indische Civil Administration) pasca Agresi Militer Belanda I tanggal 21 Juli 1947, maka pada tanggal 14 Agustus 1947 keluar Besluit dari Presiden HTB Bogor Nomor 305 yang memerintahkan agar Beliau ditangkap dan diasingkan ke daerah pedesaan di Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor di mana Beliau mendirikan kembali Pemerintahan Republik Indonesia di Kabupaten Bogor. Pada saat dalam pengasingan tersebut, Beliau menerima tugas dari Pemerintah Republik Indonesia untuk menyusun struktur Pemerintahan Kabupaten Bogor Darurat yang berpusat di Jasinga. Setelah pembentukan Kabupaten Bogor Darurat, berdasarkan Keputusan Gubernur Militer Jawa Barat, Beliau diperbantukan di KMD IV/DJ.B selaku Kepala Staf Sipil Kepresidenan di Bogor.
  9. Wakil Gubernur Jawa Barat merangkap sebagai Bupati Lebak Ke-11 (1948-1949).
  10. Residen Bogor.
  11. Residen Priangan pada tahun 1951. Pada periode tersebut, Beliau menjadi bagian dari Delegasi Studi Indonesia ke Amerika Serikat dan tinggal di sana selama 3 (tiga) bulan setelah berangkat pada bulan September 1953 sampai dengan bulan Desember 1953. Setelah kembali ke Indonesia, Beliau menerbitkan buku Melawat ke Negara Dollar disertai Kata Pengantar Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Mr. Soemarman, Djakarta, 18 Mei 1956 dan Kata Pengantar Gubernur Djawa Barat H.R. Moehammad Sanoesi Hardjadinata, Bandung, Pebruari 1956 serta Kata Pendahuluan R. Ipik Gandamana, Pebruari 1956). Laporan kunjungannya tersebut membandingkan permasalahan demokrasi di Indonesia dengan permasalahan demokrasi di Amerika Serikat dan juga dengan struktur pemerintahan Amerika Serikat.
    Melawat ke Negara Dollar - R.Ipik Gandamana

    Melawat ke Negara Dollar – R.Ipik Gandamana

  12. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Anggota Dewan Konstituante tahun 1955.
  13. Gubernur Provinsi Jawa Barat dari tanggal 01 Juli 1957 sampai dengan tahun 1959/1960, menggantikan Sanusi Hardjadinata dan digantikan oleh Mashudi (pasca mundurnya Drs. Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia tanggal 31 Desember 1956 atau menjabat hanya selama 11 tahun saja sejak tanggal 18 Agustus 1945). Beliau mendorong agar pejabat birokrat pemerintah daerah (lokal) terpilih lebih baik dibandingkan pejabat birokrat pemerintah pusat. Beliau memandang peran birokrat sebagai pelatihan bagi pejabat daerah yang kurang berpengalaman. Selama menjabat sebagai gubernur, Beliau juga memimpin panitia yang mendirikan Universitas Padjadjaran, Bandung yang sebagian besar sekarang telah dipindahkan ke Jatinangor. Beliau menjadi anggota pendiri dan Ketua Presidium Universitas Padjadjaran, Bandung.
  14. Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Ke-14 pada Kabinet Kerja Pertama Sukarno di bawah pemerintahan Presiden Ir. Sukarno dari tanggal 10 Juli 1959 sampai dengan tanggal 27 Agustus 1964, menggantikan Sanusi Hardjadinata dan digantikan oleh Mayor Jenderal TNI (Purn.) dr. H. Soemarno Sosroatmodjo. Karena Kabinet Kerja Pertama Sukarno secara eksplisit dibentuk sebagai kabinet non-partai, Beliau bergabung dengan beberapa menteri lain yang ditunjuk untuk mengundurkan diri dari partai politiknya, Liga Pendukung Kemerdekaan Indonesia, yaitu sebagai Anggota Pimpinan Pusat Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI). Beliau tetap menduduki jabatan ini sampai tanggal 27 Agustus 1964.
Kerja I 10 Juli 1959 18 Februari 1960
Kerja II 18 Februari 1960 6 Maret 1962
Kerja III 6 Maret 1962 13 November 1963
Kerja IV 13 November 1963 27 Agustus 1964

Setelah Beliau menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, tidak ada warga sipil lain yang menduduki jabatan tersebut hingga tahun 2009 ketika Dr. H. Gamawan Fauzi, S.H., M.M. gelar Datuk Rajo Nan Sati diangkat sebagai Menteri Dalam Negeri.

  1. Menteri Pembangunan Pedesaan Republik Indonesia dari tanggal 27 Agustus 1964 sampai dengan tanggal 21 Februari 1966 dan digantikan oleh Aminuddin Azis.

Setelah Gerakan 30 September 1965, Presiden Sukarno melakukan perombakan kabinet, dan memberhentikan Beliau dari jabatan menterinya pada tanggal 21 Februari 1966. Di bawah Presiden Suharto, ia bergabung dengan Dewan Pertimbangan Agung (DPA) dari tahun 1968 sampai dengan tahun 1973. DPA Periode 1968–1973 sebagai berikut:

Ketua: Mr. Wilopo

Wakil Ketua: K.H. Muhammad Ilyas

Para Anggota:

  1. Oetarjo Anwar Tjokroaminoto
  2. Abdullah Ujong Rimba
  3. Arudji Kartawinata
  4. H. Ahmad Badawi
  5. Hardi
  6. Ipik Gandamana
  7. Dr. Ir. Herman Johannes
  8. Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono
  9. Laksamana (Tit.) Dr. Johannes Leimena
  10. Hj. R.A. Maria Ulfah (Maria Ulfah Santoso, Maria Ulfah Soebadio Sastrosatomo)
  11. H. Masjkur
  12. H. Pangeran Mohammad Noor
  13. Dr. M. Sardjito, M.D., M.P.H.
  14. Dr. R. Slamet Iman Santoso
  15. Sukarni

 

Beliau wafat di Bandung pada tanggal 06 September 1979 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. Beliau memiliki seorang istri dan 4 (empat) orang anak.

Nama Beliau diabadikan oleh Pemerintah Kabupaten Purwakarta sebagai sebuah nama jalan yang menghubungkan antara Perlintasan Kereta Api, Lingkungan Sukasari (Rawasari) Kelurahan Tegalmunjul, Kecamatan Purwakarta hingga ke Pertigaan Cimaung, Kelurahan Ciseureuh, Kecamatan Purwakartan, Kabupayen Purwakarta, yaitu Jl. R. Ipik Gandamana (bukan Gandamanah).

(R.M.A. AHMAD SAID WIDODO, Peneliti dan Penulis Sejarah Purwakarta).

 

Disclaimer: Jika ada informasi atau keterangan yang salah akan diperbaiki di kemudian hari.

Ayo ke Diorama !

Ingin tahu seperti apa isi Bale Panyawangan Diorama. Yuk kita ke Diorama Purwakarta dan Diorama Nusantara !