Kelangenan para menak (bangsawan) Sunda tempo doeloe adalah berburu dan “marak”.

Berburu dilakukan di hutan, sasarannya adalah satwa liar seperti rusa, babi hutan, mencek (kijang), peucang (kancil), dan sebagainya. Dan rakyat kebanyakan yang ikut menjadi “pangilang” (tukang menyoraki binatang buruan), cukup senang dengan mendapatkan landak, peusing (trenggiling), garangan, atau bajing.

Untuk kepentingan berburu, dibangunlah papanggungan yang tohaga di lokasi berburu. Di beberapa tempat, di lokasi perburuan itu dibuatlah bangunan yang lebih baik. Kemudian dijadikan pasanggrahan.

Akhirnya pasanggrahan itu dijadikan pula tempat refreshing para menak dan keluarganya. Pun disaat tidak ada acara berburu. Pasalnya, berburu tidak boleh dilakukan terlalu sering, agar hewan-hewan penghuni hutannya tidak habis. Bahkan ada larangan berburu binatang-binatang tertentu, jika bukan pada waktunya berburu.

Itulah sebabnya tempat bernama Pasanggrahan umumnya berada di hutan. Baik di hutan pegunungan maupun di hutan dataran rendah. Kemudian berkembang menjadi perkampungan, Kampung Pasanggrahan; bahkan beberapa di antaran menjadi desa, Desa Pasanggrahan.

Di Kecamatan Bojong, Purwakarta misalnya, yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Wanayasa, Desa Pasanggrahan berada di kaki Gunung Burangrang.

Tak jauh dari sana terdapat tempat para menak memandikan kudanya ketika berada di pasanggrahan atau selepas jalan-jalan memacu kudanya. Kemudian tempatnya dinamai Pamandian Kuda, yang kini berada di Desa Cihanjawar (Bojong), yang bersentuhan langsung dengan Gunung Burangrang.

Parakanceuri

Sementara itu “marak” adalah beramai-ramai mengambil ikan dari sungai. Caranya sungai “diparak” yakni dibikin surut (saat) dengan cara dibendung di bagian arah ke hulunya. Kemudian di bagian arah ke hilirnya, yang airnya sudah surut, dijadikan tempat mengambil ikan beramai-ramai.

Pada saat itu, menak dan rakyat bersama-sama “marak”. Berbaur, tak ada sekat. Tentu saja dengan beberapa peraturan khusus, yang lebih menguntungkan para menak.

Sama seperti berburu, “marak” juga tidak boleh dilaksanakan sembarang waktu. Maksudnya jelas, agar ikannya tidak cepat habis. Biasanya dilakukan setahun sekali. Dan ada larangan bagi siapapun untuk mengambil ikan di sana, baik dengan pancing (diuseupan) atau dengan jala (dikecrik, diheurap, dilintar).

Tempat “marak” disebut parakan. Oleh karena itu, tempat bernama parakan selalu berada di pinggir sungai. Umumnya sungai yang berupa “walungan” (sungai alam) bukan “susukan” (sungai buatan).

Di Kabupaten Purwakarta terdapat beberapa tempat bernama parakan, terutama di bagian timur kota berikon badak putih tersebut.

Parakanceuri ada di Kecamatan Kiarapedes yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Subang. Lokasinya berada di bagian barat Sungai Cilamaya.

Dinamai Parakanceuri karena mempunyai ciri spesifik pohon ceuri. Pohon yang buahnya mirip manggis, namun lebih kecil. Sampai sekarang masih ada beberapa pohon ceuri di sana.

Kampung Parakanceuri sekarang masuk ke wilayah Desa Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes. Padahal dulunya merupakan bagian dari Desa Parakan Garokgek. Salah satu desa tertua di Kabupaten Purwakarta.

Pada tahun1910 misalnya, Kecamatan Wanayasa terdiri dari tiga desa saja, yakni Desa Wanayasa, Desa Cikeris Girang, dan Desa Parakan Garokgek.

Dinamai Desa Parakan Garokgek karena merupakan gabungan dari dua kampung besar saat itu, yakni Kampung Parakanceuri dan Kampung Garokgek. Maka jadilah nama Desa Parakan Garokgek.

Parakansalam

“Marak” dalam bahasa Sunda mempunyai padanan kata yakni “munday”. Bedanya, “munday”merupakan bahasa halus dari “marak”. Kata “parakan” maknanya sama dengan “pamundayan”.

Di Kabupaten Purwakarta, tempat bernama Pamundayan berada di pinggir Sungai Ciherang, tepatnya di Desa Bungurjaya Kecamatan Pondoksalam.

Kampung Pamundayan termasuk kampung tua di Kabupaten Purwakarta. Merupakan batas bagian barat perkebunan teh di Wanayasa yang dibuat Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1827. Dan mempunyai akses langsung dengan batas perkebunan teh sebelah selatan, yakni Sindangpanon, melalui jalan kontrak.

Tak jauh dari sana ada Parakan Tumenggung, masih di pinggir Sungai Ciherang. Dinamai demikian karena parakan tersebut menjadi kesukaan Juragan Tumenggung, penguasa Distrik Wanayasa saat itu.

Tumenggung di Tatar Sunda adalah jabatan kepala distrik di bawah bupati di atas camat (penguasa onderdistrik), setingkat dengan wadana. Belum diketahui nama tumenggungnya saat itu, yang jelas jauh sebelum Distrik Wanayasa digabungkan dengan Kabupaten Karawang.

Sebelumnya Distrik Wanayasa pernah digabungkan dengan Kabupaten Bandung, kemudian menjadi bagian dari Kabupaten Sumedang.

Awalnya Parakan Tumenggung ini termasuk wilayah Desa Pondoksalam. Ketika dimekarkan pada tahun 1809, namanya pun berubah menjadi Parakansalam, yang merupakan gabungan dari nama Parakan Tumenggung dan Pondoksalam.

Sama dengan nama Desa Parakan Garokgek yang merupakan gabungan dua nama tempat, yakni Parakanceuri dan Garokgek.

Parakanlima

Tak jauh dari sana, ada lagi Parakanlima. Lokasinya sama di pinggir sungai, yakni Sungai Cikao. Sama dengan Sungai Ciherang, Sungai Cikao juga berhulu di Gunung Burangrang dari titik yang berbeda. Dan kini Parakanlima menjadi nama desa yang termasuk ke Kecamatan Jatiluhur.

Menurut cerita rakyat setempat, nama Parakanlima erat kaitannya dengan tentara Mataram Islam ketika akan menyerang Batavia tahun 1926. Tentara Mataram menyiapkan perbekalan di daerah tersebut.

Ini beririsan dengan kisah Blok Wanayasa di Pulau Buru. Menurut Pramudya Ananta Toer, pasukan Mataram mempersiapkan perbekalannya di daerah Wanayasa (Purwakarta sekarang) ketika akan menyerang Batavia.

Hal itulah yang menjadi inspirasi sastrawan kahot Indonesia tersebut menamai Blok III Pulau Buru dengan nama Blok Wanayasa, yang kemudian menjadi daerah untuk mempersiapkan perbekalan (padi, dsb) untuk para tapol di Pulau Buru. Itulah kisah tempat bernama Wanayasa ada di Pulau Buru. Namanya masih terpatri sampai sekarang.

Kembali ke Parakanlima. Karena dipersiapkan untuk menjadi daerah perbekalan tentara Mataram, Sultan Agung memerintahkan lima orang ngabei untuk bertugas di sana. Kelima orang ngabei tersebut adalah Rd. Ngabei Singawijaya, Rd. Ngabei Singadilaga, Rd. Ngabei Singadipura, Rd. Ngabei Singodimejo, dan Rd. Ngabei Singomenggolo.

Kelima ngabei tersebut diperintahkan untuk tetap tinggal di sana selama masa penantian saatnya menyerang Batavia. Karena di sana merupakan daerah parakan, maka namanya pun menjadi Parakanlima.

Setelah menyerang Batavia, nasib kelima ngabei tersebut tak ada lagi kabar beritanya. Cuma dikisahkan ada salah seorang ngabei dari lima ngabei tersebut yang sempat menikah dengan putri Patinggi Colobong.

Istri sang ngabei, puteri Patinggi Colobong tersebut, terus menanti kepulangan suaminya. Namun yang dinantikan tak pernah kembali, bahkan tak terdengar kabar beritanya lagi. Sampai akhirnya bersumpah, anak keturunannya jangan sampai ada yang menikah dengan tentara.

Sebetulnya masih ada lagi beberapa tempat bernama parakan di Kabupaten Purwakarta. Misalnya di Desa Sindanglaya Kecamatan Sukatani atau nama Parakansapi di pinggir Sungai Citarum, yang tak jauh dari Gunung Lembu. PR yang layak dibahas pada kesempatan lain.

Penulis: Budi Rahayu Tamsyah

Ayo ke Diorama !

Ingin tahu seperti apa isi Bale Panyawangan Diorama. Yuk kita ke Diorama Purwakarta dan Diorama Nusantara !