Nama lengkap Mama Sempur berikut gelarnya adalah Al-‘Aalim Al-‘Allaamah Al-Faqiih Ash-Shuufi Asy-Syaikh Al-Haajji Tubagus Ahmad Bakri bin Tubagus Sayida as-Sampuri al-Faliridi al-Jawi asy-Syafi’i. Nama lain dari Mama Sempur adalah Mama Ahmad Bakri, Mama Bakri, Mama Sempur, Mbah Sempur atau Syekh Sempur.
Mama Sempur dilahirkan di Citeko, Plered yang pada saat itu termasuk wilayah Kacutakan Gandasoli, Kabupaten Cianjur, Karesiden Priangan, Hindia Belanda pada tahun 1255 Hijriyah atau 1839 Masehi. Ayahnya bernama Syekh Hajji Tubagus Sayyida bin Tubagus Arsyad al-Bantani dan ibunya bernama Hajjah Ummi serta kakeknya bernama Syekh Tubagus Arsyad al-Bantani. Nama nisbah Mama Sempur adalah As-Sampuri al-Faliridi al-Jawi asy-Syafi’i.
Mama Sempur wafat di Sempur, pada hari Senin tanggal 27 bulan Dzulqaidah tahun 1395 Hijriyah atau pada hari Senin tanggal 01 bulan Desember tahun 1975 Masehi pada usia ± 140 tahun (berdasarkan Hijiriyah) atau pada usia ± 136 tahun (berdasarkan Masehi) dan dimakamkan di Sempur, Plered, Purwakarta, Jawa Barat, Indonesia.
Guru Mama Sempur yang paling utama adalah Al-Imaam Al-‘Allaamah Asy-Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani at-Tanari asy-Syafi’i. Bidang ilmu yang Mama Sempur paling minati adalah Ilmu Tauhid, Fiqih, Tasawuf, Nahwu, Sharaf, Hadits dan Tafsir. Beliay bermazhab Syafi’i
Silsilah lengkap Mama Sempur
Berdasarkan salah satu karya Mama Sempur yang berjudul Tanbihul Muftarin (halaman 22), silsilah dari ayahnya sampai kepada Rasulullah ﷺ melalui jalur Kesultanan Banten dari Dinasti Azmatkhan. Silsilah lengkapnya adalah sebagai berikut:
1) Syekh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri bin
2) Syekh Tubagus Sayida bin
3) Syekh Tubagus Hasan Arsyad al-Bantani bin
4) Maulana Muhammad Mukhtar al-Bantani bin
5) Sultan Abu al-Fath Abdul Fattah (Sultan Ageng Tirtayasa) bin
6) Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad bin
7) Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdulqadir bin
8) Sultan Maulana Muhammad Nashruddin bin
9) Sultan Maulana Yusuf bin
10) Sultan Maulana Hasanuddin bin
11) Sultan Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) bin
12) Sultan Syarif Abdullah Umdatuddin Azmatkhan bin
13) Sultan Syarif Ali Nurul Alam Azmatkhan bin
14) Jamaluddin Akbar al-Husaini bin
15) Maulana Ahmad Syah Jalaluddin bin
16) Maulana Abdullah Azmatkhan bin
17) Sultan Abdul Malik Azmatkhan bin
18) Sayyid Alwi bin
19) Sayyid Muhammad Shohib Mirbath bin
20) Sayyid Ali Khali Qasam bin
21) Sayyid Alwi bin
22) Sayyid Muhammad bin
23) Sayyid Alwi bin
24) Sayyid Ubaidillah bin
25) Imam al-Muhajir ilallah Ahmad bin
26) Sayyid Isa an-Naqib bin
27) Sayyid Muhammad an-Naqib bin
28) Sayyid Ali al-‘Uraidli bin
29) Imam Ja’far ash-Shadiq bin
30) Imam Muhammad al-Baqir bin
31) Imam Ali Zainal Abidin bin
32) Sayyidina Husain bin
33) Sayyidatina Fatimah az-Zahra binti
34) Rasulullah ﷺ
Nama-nama guru Mama Sempur
1) Sayyid Utsman bin Aqil bin Yahya (Batavia),
2) Syekh Soleh Darat bin Umar (Semarang),
3) Syekh Ma’sum bin Ali, Syekh Soleh (Cirebon),
4) Syekh Syaubari, Syekh Ma’sum bin Salim (Semarang),
5) Raden Haji Muhammad Roji Ghoyam (Tasikmalaya),
6) Raden Haji Muhammad Mukhtar (Bogor),
7) Al-‘Aalim Al-‘Allaamah Asy-Syekh Al -Haajji Muhammad Kholil bin Abdul Lathif al-Bangkalani al-Maduri al-Jawi asy-Syafi’i (Syaikhona Kholil atau Syekh Kholil), (Bangkalan)
8) Al-Imaam Al-‘Allaamah Asy-Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani at-Tanari asy-Syafi’i
Dalam kitab Idlah al-Karatoniyyah Fi Ma Yata’allaqu Bidlalati al-Wahhabiyyah (halaman 27), Mama Sempur menyebutkan guru-gurunya sebagaimana berikut:
Sunda
1) Syekh Raden Haji Muhammad Roji Goyam – Tasikmalaya (talmidz: Syekh Umar asy-Syami dan Syekh Ahmad al-Khoyyath)
2) Syekh Syathibi bin Muhammad Sa’id – Gentur
3) Syekh Muhammad Bashri bin Abdillah (talmidz: Sayyid Utsman dan Syekh Raden Haji Muhammad Roji Goyam)
Jawa
1) Syekh Syaubari
2) Syekh Sholih bin ‘Umar – Semarang
3) Syekh Ma’shum bin Salim – Semarang (mualif: Tasywiqul Kholan)
4) Syekh Ahmad Dahlan bin Abdillah (akhi: Syekh Syaikhina Muhammad Mahfudz at-Tarmasi)
Batavia
1) Tuan Syekh Habib Utsman
Makkah
1) Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani
2) Syekh Ahmad Zaini Dahlan
3) Syekh Sa’id Babshil
4) Syekh Umar bin Abi Bakar Bajunaidi
5) Sayyid Abdul Karim ad-Daghustani
6) Syekh Sholih Bafadhol al-Hadhromi
7) Syekh Sholih al-Kamal (mufti: al-Hanafi)
8) Syekh Ali Al-Kamal al-Hanafi
9) Syekh Jamal al-Maliki
10) Syekh Ali bin Husain al-Maliki
11) Sayyid Hamid (qadi: Jiddah) asal (mufti: al-Hanafi fil Makatil Musyarofah)
12) Tuan Ahmad Khotib
13) Syekh Sa’id al-Yamani
14) Syekh Muhammad Mahfudz
15) Syekh Mukhtar bin Athorid
16) Syekh Muhammad Marzuq al-Bantani
Nama pondok pesantren yang Mama Sempur dirikan adalah Pondok Pesantren As-Salafiyyah, Sempur yang pada saat itu termasuk wilayah Onderdistrik Plered, Distrik Darangdan, Controle Afdeeling Poerwakarta, Afdeeling Poerwakarta (Karawang), Residentie Batavia, Province West Java, Nederlandsch Indie. Pada tahun 1911.
Tarikat Mama Sempur
Tarekat Ngaji, sebagaimana Beliau ungkapkan dalam karyanya yang berjudul Futuhatut Taubah Fi Shidqi Tawajuhit Thoriqoh pada halaman 47-49: “Ari anu pang afdhol-afdholna tarekat dina zaman ayeuna, jeung ari leuwih deukeut-deukeutna tarekat dina wushul ka Allah Ta`ala eta nyatea tholab ilmi, sarta bener jeung ikhlash” (Tarikat yang paling utama pada zaman sekarang dan tarikat yang paling dekat dengan wushul kepada Allah yaitu thalabul ilmi, benar dan ikhlas).
Pernyataan Mama Sempur tersebut dikutip dari jawaban seorang Mufti Syafiiyah Syekh Muhammad Sayyid Babashil yang mendapat pertanyaan seputar tarekat dari Syekh Ahmad Khatib. Dialog kedua Ulama tersebut dikutip oleh Mama Sempur dalam Kitab Idzharu Zughlil Kadzibin halaman 61.
Selain itu, dalam kitab Futuhatut Taubah Fi Shidqi Tawajuhit Thoriqoh halaman 32, seraya mengutip pernyataannya Syekh Muhammad Amin asy-Syafi’i an-Naqsyabandi, Mama Sempur menyatakan bahwa hukum masuk dalam salah satu tarekat mu’tabarah bagi setiap muslim laki-laki maupun perempuan yang sudah mukalaf adalah fardlu’ain. Sehingga menurut salah satu riwayat, Syekh Tubagus Ahmad Bakri pun tetap menganut tarekat mu’tabarah. Adapun tarekat yang dianutnya adalah Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah.
Sementara mengenai Tarekat Ngaji, K.H. Mu’tamad (salah satu murid Mama Sempur, pengasuh Pondok Pesantren an-Nur Subang), menuturkan:
“Setiap pukul empat pagi, Mama Sempur sudah bersila dan berdzikir di dalam Masjid, mendirikan Salat Subuh berjamaah, wiridan dan kembali berzikir sampai waktu dhuha melaksanakan Salat Dhuha, dilanjutkan dengan mengajar ngaji santri sampai pukul 11.00 WIB. Usai mengajar ngaji santri, jadwal pengajian selanjutnya adalah mengajar ngaji para Kiai sekitar kampung yang dilanjutkan dengan Salat Zuhur berjamaah. Kemudian pulang ke rumah dan istirahat, namun ia tak pernah bisa istirahat sepenuhnya karena sudah ditunggu para tamu sampai waktu ashar. Selepas Salat Ashar Mama Sempur kembali mengaji bersama para santri hingga menjelang maghrib. Setelah Salat Maghrib ia istirahat sejenak dan Salat Isya, kemudian mengajar santri kembali hingga pukul 23.00 WIB. Bahkan menurut satu riwayat, kebiasaan Mama Sempur yang pernah diketahui oleh santrinya adalah dia tidak pernah batal wudu sejak Isya sampai Subuh dan tidak pernah terlihat makan.”
Karya-karya Mama Sempur
Kitab Saif adl-Dlarib
Kitab Saifudl-Dlarib, 8 (delapan) pasal 30 (tiga puluh) halaman, menjelaskan tentang tanda-tanda datangnya hari kiamat, baik itu kiamat Shugra maupun kiamat Kubra, kitab ini juga menceritakan tentang ramalan Syaikh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati tentang 8 (delapan) tanda akan datangnya hari kiyamat, yaitu (1) cuaca atau musim hujan dan musim kemarau sudah tidak bisa diprediksi, (2) banyaknya perpecahan antar manusia disertai meninggalkan syariat agama, (3) berusaha mengurangi kelahiran manusia dan banyak perselingkuhan, (4) menjual ilmu dengan dunia dan pegawai negara mudah disogok (gratifikasi), (5) dibuatkan gedung mewah untuk prostitusi dan perjudian serta orang gila dijadikan tempat ‘bertanya’, sedangkan orang berilmu malah disingkirkan, (6) meletusnya perang dunia antara Timur dan Barat Selatan, namun akhirnya tidak ada yang menjadi pemenang, (7) masyarakat tidak taat hukum sehingga tatanan masyarakat menjadi kacau, dan (8) masyarakat meninggalkan ajaran agama dan hanya mengedepankan nafsunya saja. Kitab ini selesai ditulis pada hari Ahad Rabiul Tsani 1341 Hijriyah atau Desember 1922 Masehi.
Kitab Roihat Al-Wardiyah
Kitab Roihatul-Wardiyah, 13 (tiga belas) pasal, 21 (dua puluh satu) halaman, membahas tentang adabul basyariyah, yaitu tata krama yang harus dilakukan oleh manusia khususnya Umat Islam dengan kebaikan hatinya, kebaikan pekerjaannya dan kebaikan perangainya serta menjalani peraturan yang sudah ditentukan oleh Agama dan adat kebiasaan sebuah negeri, salah satu poin yang ada dalam kitab ini dinyatakan bahwa jika perbuatan baik ini bisa dilakukan, maka akan menghasilkan kebaikan untuk dirinya sendiri serta dijauhkan dari segala kejahatan. Mama Sempur berhasil menyelesaikan kitab ini pada tanggal 26 Ramadan 1347 Hijriyah atau tanggal 8 Maret 1929 Masehi.
Kitab Tanbihul Muftarin Tanbihul-Muftarin (Tanbihul-Ikhwan Fir-Roddi `Ala Mazhabid-Dlalalah wat-Tufyan)
Kitab Tanbihul-Ikhwan Fir-Roddi `Ala Mazhabid-Dlalalah wat-Tufyan, 8 (delapan) pasal, 31 (tiga puluh satu) halaman membahas tentang larangan untuk mencela kepada dua orang Sahabat Nabi ﷺ yaitu Muawiyah dan Ali bin Abi Thalib karena kedua orang ini adalah orang mulia di sisi Rasulullah ﷺ. Selain itu dalam kitab ini juga dibahas tentang Akhlakul Karimah seperti anjuran untuk segera membayar hutang agar hutangnya tidak menggunung, memilih wanita shalihah untuk dijadikan sebagai istri, kefardhuan mencari ilmu yang manfaat (terlebih bagi keturunan Rasulullah ﷺ dan lain sebagainya). Kitab ini selesai ditulis pada hari selasa tanggal 15 Ramadan 1349 Hijriyah atau 3 Februari 1931 Masehi.
Kitab Tabshirot Al- Ikhwan Fii Bayani Tasywiqil-Khallan
Kitab Tabshiratul-Ikhwan Fii Bayani Tasywiqil-Khallan, 7 (tujuh) pasal dan 82 (delapan puluh dua) halaman, pembahasan kitab ini seputar aqidah dan sufisme, di antara pelajaran yang disampaikan Mama Sempur dalam kitab ini adalah ungkapan yang ia kutip dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab Fathur-Robbani, mengatakan, bahwa perang ada dua macam, yaitu perang dzahir dan perang batin. Perang Dzahir adalah memberantas Kaum Kafir yang membenci Allah dan Rasul-Nya dengan mengangkat senjata pedang, panah dan lainnya. Sementara Perang Bathin adalah memerangi nafsu, syahwat dan tabiat buruk yang melenceng dari aturan agama serta memerangi godaan setan. Dari kedua perang ini yang paling berat adalah perang batin. Mama Sempur menyelesaikan kitab ini pada hari Ahad tanggal 3 Ramadan 1352 Hijriyah atau 20 Desember 1933 Masehi.
Kitab Nashaihul Awam Fii tafqiqil-Islam
Kitab Nashaihul-Awam Fii tafqiqil-Islamini, 19 (sembilan belas) pasal dan 34 (tiga puluh empat) halaman yang isinya merupakan ajaran-ajaran agama Islam yang dikutip oleh Mama Sempur dari al-Qur’an, Hadits dan pendapat para Ulama, di antaranya adalah bahwa pokok ajaran Islam adalah saling menasihati dalam kebaikan, tujuannya adalah agar kelak umat Islam menjadi husnul, selain itu Mama Sempur juga menyampaikan tentang tidak layaknya membangun masjid di tempat yang populasinya tidak pernah melaksanakan salat, anjuran untuk segera bertaubat dan seterusnya. Kitab ini selesai ditulis pada malam Jumat tanggal 21 Dzulhijjah 1352 Hijriyah atau 6 April 1934 Masehi.
Kitab Risalat Al-Muslihat Fi Bayani Fardlil-Maakulat wal-Masnunat wal-Makruhat wal-Muharromat
Kitab Risalatul-Muslihat fi bayani fardlil-Maakulat wal-Masnunat wal-Makruhat wal-Muharromat, 17 (tujuh belas) halaman, kitab ini membahas hukum fiqih yang difokuskan kepada makan, sebagaimana layaknya fiqih yang mempunyai sifat relatif dan dinamis, Mama Sempur membahas tentang relatifitas hukum makan, yakni makan dalam keadaan Wajib, Sunah, Makruh dan juga Haram. Kitab ini diselesaikan pada hari Ahad tanggal 30 Jumadil Awal 1353 Hijriyah atau 9 September 1934 Masehi.
Kitab Ihyaul Mayyit Fi Bayani Fadhli Ahli Bait
Kitab Ihyaul-Mayit Fi Bayani Fadhli Ahli Bait, 8 (delapan) pasal dan 37 (tiga puluh tujuh) halaman, membahas tentang keutamaan keturunan Rasulullah ﷺ, sehingga umat Islam semestinya memuliakan mereka, namun demikian jika ada keturunan Rasulullah ﷺ yang melenceng dari ajaran agama Islam, maka wajib untuk segera diluruskan karena tidak pantas jika ada Ahlul Bait yang akhlaknya tidak sesuai dengan Rasulullah ﷺ. Kitab ini diselesaikan pada hari Rabu tanggal 11 Safar 1346 Hijriyah atau 14 Mei 1935 Masehi.
Kitab Risalah al-Waladiyyah
Kitab Risalah al-Waladiyyah, 15 (lima belas) halaman, merupakan kitab nadzaman karya Mama Sempur berupa terjemah dari kitab “al-Kharidah al-Bahiyyah” karangan Syaikh Ahmad Dardir. Kitab yang membahas tentang tauhid ini selesai ditulis pada tanggal 3 Rabiul Awal 1357 Hijriyah atau 4 Mei 1938 Masehi.
Kitab Futuhat at-Taubah Fi Shidqi Tawajjuhi Thariqoh
Kitab Futuhatut-Taubah Fi Shidqi Tawajuhit-Thariqah, 53 (lima puluh tiga) halaman menjelaskan tentang tasawuf yang dispesifikan dalam thariqah, ini membahas seputar dunia thariqah seperti syarat menjadi guru thariqah (mursyid), kewajiban menjalankan syariat, kecaman terhadap penganut thariqah yang meninggalkan syariat dan lain sebagainya. Kitab ini selesai ditulis pada bulan Safar tahun 1358 Hijriyah atau April 1939 Masehi.
Kitab Fawaid al-Mubtadi
Kitab Fawaidul-Mubtadi, 49 (empat puluh sembilan) halaman, menjelaskan tentang materi pengajaran yang wajib dajarkan oleh orang tua terhadap anak-anaknya, dalam kitab ini juga dibahas tentang faidah (kegunaan) dan tata cara mencari ilmu yang bermanfaat. Kitab ini selesai ditulis pada hari Rabu tanggal 25 Ramadan 1371 Hijriyah atau 18 Juni 1952 Masehi.
Kitab Ishlah al-Balid Fi Tarjamati Qaul al-Mufid
Kitab Ishlahul-Balid Fi Tarjamati Qaulil-Mufid, 15 (lima belas) halaman, merupakan kitab terjemah dari kitab “Qaulul-Mufid”, materi pembahasan dalam kitab ini adalah seputar dunia tasawuf yang tetap mengedepankan syariat. Kitab ini selesai ditulis pada hari Ahad bulan Safar tahun 1372 Hijriyah atau Oktober 1953 Masehi.
Kitab Maslahat al-Islamiyyah Fi Ahkam at-Tauhidiyah
Kitab Maslahatul-Islamiyyah Fi Ahkamit-Tauhiddiyyah, 5 (lima) pasal, 36 (tiga puluh enam) halaman, menjelaskan tentang konsep tauhid yang ada dalam ajaran agama Islam. Kitab ini selesai ditulis pada tanggal 1 Muharram 1373 Hijriyah atau 10 September 1953 Masehi.
Kitab Campaka Dilaga Mertelakeun Perihal Wajib Usaha
Kitab Cempaka Dilaga Mertelakeun Perihal Wajib Usaha, 24 (dua puluh empat) halaman, merupakan satu-satunya kitab yang judulnya menggunakan Bahasa Sunda yang membahas tentang bisnis dan etos kerja dalam pandangan Islam. Ditulis oleh Mama Sempur pada tanggal 8 Dzulhijjah 1378 Hijriyah atau 15 Juni 1959 Masehi.
Kitab Maslakul Abror Tarjamat Nadzam `Iqdud-Dar
Kitab Muslakul-Abror tarjamat nadzam `Iqdud-Dar, 6 (enam) pasal, 11 (sebelas) halaman, merupakan terjemahan dari kitab “Iqdarud-Duror”, yang berisi kumpulan nadzaman berbahasa Sunda dan materi pembahasannya tentang tauhid, dalam kitab ini Mama Sempur tidak menyebutkan tempat dan waktu penulisan kitab.
Kitab Maslak al-Hal
Kitab Maslakul-Hal, 7 (tujuh) pasal, 24 (dua puluh empat) halaman, menjelaskan tentang mu`amalah antar manusia, seperti bekerja, walimah, akhlak dan sebagainya, kitab ini mempunyai beberapa kesamaan dengan kitab “Cempaka Dilaga”. Mama Sempur dalam kitab ini tidak mencantumkan tempat dan tanggal penulisan kitab.
Kitab Tanbihul Ikhwan Fir-Roddi `Ala Mazhabid-Dlalalah wat-Tufyan
Kitab Tanbihul-Ikhwan Fir-Roddi `Ala Mazhabid-Dlalalah wat-Tufyan, 8 (delapan) pasal, 31 (tiga puluh satu) halaman membahas tentang larangan untuk mencela kepada dua orang Sahabat Nabi ﷺ yaitu Muawiyah dan Ali bin Abi Thalib karena kedua orang ini adalah orang mulia di sisi Rasulullah ﷺ. Selain itu dalam kitab ini juga dibahas tentang Akhlakul Karimah seperti anjuran untuk segera membayar hutang agar hutangnya tidak menggunung, memilih wanita shalihah untuk dijadikan sebagai istri, kefardhuan mencari ilmu yang manfaat (terlebih bagi keturunan Rasulullah ﷺ dan lain sebagainya). Kitab ini selesai ditulis pada hari selasa tanggal 15 Ramadan 1349 Hijriyah atau 3 Februari 1931 Masehi.
Kitab Manhajul Ibad Fi Bayani Daf’il Fasad
Kitab Manhajul-Ibad Fi Bayani Daf`il-Fasad, 8 (delapan) pasal dan 22 (dua puluh dua) halaman, membahas tentang faidah dan keutamaan-keutamaan yang harus dilakukan oleh umat Islam, di antaranya adalah faidah ziarah kubur kepada makam para Nabi, para Wali dan Orang Tua, menurut Mama Sempur anjuran ziarah kubur sudah ada dalam al-Qur’an dan Hadits serta ulama 4 (empat) Madzhab. Seraya mengutip pendapat Syekh Sayyid Alwi, Mama Sempur mengungkapkan, bahwa ziarah ke makam orang tua sangat dianjurkan, bahkan hal itu diumpamakan, seperti melaksanakan Ibadah Haji, selain itu Mama Sempur pun membahas tentang larangan ta`ashub, yaitu sulit menerima kebenaran agama padahal sudah diberikan dalil-dalil tentang kebenarannya. Dalam kitab ini Mama Sempur tidak mencatat tanggal penulisan kitab.
Kitab Idlah Al-Karathoniyah Fi Maa Yata’allaqu Bidholalatil Wahabiyyah
Kitab Idlahul-Karatoniyah Fima Yata`allaqu bid-Dlalaltil-Wahabiyah, 8 (delapan) pasal, 47 (empat puluh tujuh) halaman, membahas tentang pemikiran-pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab dan aliran Wahabisme yang dianggap melenceng dari ajaran Islam, dalam kitab ini Mama Sempur mengutip dari beberapa kitab yang mempunyai kecenderungan untuk menyatakan bahwa Wahabi telah melenceng dari ajaran Islam, di antara kitab-kitab yang dia kutip adalah Durarus Saniyyah Fiir-Roddi ‘alal-Wahabiyah karya seorang Mufti Syafiiyah Syekh Ahmad bin Zaini Dahlan, Kitab Showa`iqul-Muhriqot karya Imam Ibnu Hajar al-Haitami dan lainnya, di antara pembahasan yang disoroti oleh Mama Sempur adalah tentang penguatan tradisi keagamaan Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seperti dalil Ziarah Kubur, Tawasul, perintah mencari ilmu kepada ulama-ulama serta tidak mencari ilmu melalui koran dan juga internet. Mama Sempur tidak meninggalkan catatan tanggal dan tahun pembuatan kitab ini.
(R.M.A. AHMAD SAID WIDODO, Peneliti dan Penulis Sejarah Purwakarta)
Ditulis berdasarkan wawancara dengan para ahli waris Mama Sempur, baik puteri bungsunya, cucu-cucunya dan cucu-cucu menantunya (Ibu Hj. Ratu Ii, cucu Mama Sempur dan Bapak H. Ae Faturrokhman), buyut-buyutnya dan Sdr. Ramlan Maulana, M.Hum serta dari berbagai kitab yang ditulisnya. Menurut salah seorang putera Hajjah Ratu Ii, yaitu Ustadz H. Faqi ada lebih dari 78-80 buah naskah asli yang tersebar pada beberapa pondok pesantren di Pulau Jawa yang sudah tidak diketahui keberadaanya, dari sejumlah itu tedapat 21-40 buah naskah yang telah disalin oleh murid Mama Sempur.


