PURWAKARTA – Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Disipusda) Kabupaten Purwakarta Asep Supriatna dipercaya menjadi narasumber pada Pertemuan Pembelajaran Sebaya/ Peer Learning Meeting (PLM) Nasional 2024 di Sanur, Bali pada Kamis 7 November 2024.

Kegiatan ini digelar oleh Perpustakaan Nasional yang mengangkat tema “Perpustakaan Membangun Masyarakat yang Berpengetahuan dan Literat dalam Menghadapi Perubahan Global”.

Sebelum menjelaskan tentang program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) yang dilaksanakan Disipusda Kabupaten Purwakarta, Asep Supriatna sedikit bercerita tentang dirinya yang baru masuk dalam kefungsian perpustakaan pada Maret 2023.

“Jadi secara awal saya bukan orang yang dibesarkan dari kefungsian perpustakaan. Tahun 2019 saya menjabat Kepala BKPSDM, 2021 dipercaya menjadi Kepala Bapenda, dan baru 2023 bulan Maret saya dialih tugaskan menjadi Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Purwakarta,” kata Asep Supriatna.

“Tetapi justru di dinas inilah saya menemukan kehidupan. Kalau dulu saya selalu berada di wilayah langit, justru pada saat inilah saya berada di wilayah bumi, dihadapkan pada kenyataan yang sesungguhnya, yang langsung bersentuhan dengan permasalahan nyata masyarakat,” tambahnya.

Ketika awal masuk ke perpustakaan, kawan-kawan Disipusda Kabupaten Purwakarta bercerita tentang program TPBIS.

Pertemuan Pembelajaran Sebaya Nasional di Sanur Bali 2024

Pertemuan Pembelajaran Sebaya Nasional di Sanur Bali 2024

Asep pun kemudian mencari literasi, mencari aturan, tentang program TPBIS, lalu ada berbagai pertanyaan dalam dirinya, apa yang harus dilakukan.

Sebagai orang Sunda, Asep mengatakan selalu terbiasa dalam melakukan sesuatu selalu didasarkan pada falsafah Sunda.

“Kebetulan saya ini orang Sunda, karena di Sunda itu ada sebuah falsafah warisan leluhur ; “Bro di juru, bro d panto, ngalayah di tengah imah, rea ketan, rea keton, buncir leuit loba duit, dihareup aya undereun, di tukang aya alaeun, dipipir aya petikeun, di kolong aya si jambrong, na paranggo aya si jago”, yang jika diartikan adalah mencerminkan kondisi keluarga segala yang segala ada, segala punya.
Berangkat dari falsafah itulah Program TPBIS di Kabupaten Purwakarta bergerak. TPBIS inilah jawaban untuk membuat individu, keluarga segala ada, segala punya dan segala bisa,” ucap Asep.

Asep lalu melakukan internalisasi serta kontemplasi tentang program TPBIS ini. Akhirnya ia mendapatkan jawaban bahwa program TPBIS ini adalah jawaban atas kegelisahan generasi saat ini. Asep menyampaikan bahwa generasi Z, sebelumnya ada generasi milenium. Secara kuantitas generasi milenium itu 27% dari seluruh populasi, generasi Z diperkirakan 25%,” ujarnya. Sebuah angka yang besar.

Generasi milenium adalah generasi-generasi yang saat ini adalah kaum-kaum produktif, generasi Z sebagian besar merupakan berada pada usia generasi produktif.

Terdapat kecenderungan negatif di generasi Z yang kadang ingin selalu serba instans, engga sabaran, dan engga mau cape. Sebagi contoh untuk makan saja, kalau lapar, bukan mencoba untuk memasak, tapi lebih suka makanan yang dibeli online dari pada makanan yang dimasak sendiri.

Pertama, generasi Z silahkan Bapak Ibu perhatikan, kalau ingin sesuatu, ingin makan saja.

Selain itu generasi Z juga jika ditanya akan usaha apa, pasti secara umum akan menjawab berdagang, atau usaha sektor jasa.

“Kalau semuanya berdagang, terus tidak ada yang memproduksi, terus apa yang mau diperdagangkan? Kalau ini pola pikir ini menggerus seluruh generasi, saya khawatir suatu ketika bangsa ini akan menjadi bangsa pedagang produk-produk yang berasal dari luar,” jelas Asep.

TPBIS adalah program yang bisa menjawab kegelisahan kondisi generasi saat ini. Di dalam TPBIS ada berbagai pelatihan yang basisnya ekonomi dan lain sebagainya, TPBIS adalah jawaban bagaimana membentuk generasi Indonesia yang berproduksi dan menghasilkan produk.

“Di Kabupaten Purwakarta, program kegiatan TPBIS yang kami lakukan, tidak terlampau aneh-aneh. Kami menyasar hal-hal yang sederhana. Kami berangkat dari filsafat tadi bahwa program TPBIS diarahkan bagaimana membentuk generasi ini, generasi yang segala bisa dan segala punya,” katanya.

Disipusda Kabupaten Purwakarta melaksanakan pelatihan-pelatihannya sederhana, seperti pelatihan memasak, mencuci, pelatihan menyetrika, menanam sayur, beternak ayam, beternak bebek. Pelatihan sederhana yang dilakukan justru akan membuat negara ini menjadi negara yang kuat.

Untuk melakukan hal itu, Disipusda Kabupaten Purwakarta melakukan kolaborasi dengan perangkat-perangkat daerah lain yang basisnya kesejahteraan.

Pada 17 November 2023, Disipusda Purwakarta melakukan Peer Learning Meeting (PLM) sekaligus MOU dengan perangkat daerah yang lain untuk berkolaborasi meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

H. Asep Supriatna Sebagai Narasumber TPBIS di Pertemuan Pembelajaran Sebaya Nasional TPBIS

H. Asep Supriatna Sebagai Narasumber TPBIS di Pertemuan Pembelajaran Sebaya Nasional TPBIS

Lalu pada 3 Oktober 2024, Disipusda mengundang 13 perangkat daerah dan saat itu disepakati akan membentuk pelatihan-pelatihan di berbagai dinas sesuai dengan kefungsiannya.

Hasil pertemuan tersebut, melalui Sekretariat Daerah, saat ini sedang disusun Keputusan Bupati tentant Tim Koordinasi Pengembangan Pelatihan Vokasi dan Pendidikan Vokasi, dan TPBIS menjadi salah satu bagian di dalamnya.

Selain mengajak perangkat-perangkat daerah yang lain, Disipusda Purwakarta juga berkolaborasi dengan perguruan tinggi dengan pelaksanaan MoU salah satunya dengan Politeknik Engineering Indorama di Purwakarta.

Dari MoU itu, langsung melaksanakan pelatihan di Desa Sumurugul, yakni pelatihan desain grafis, terus selanjutnya juga ada pelatihan life skill dan pra kerja.

“Alhamdulillah ini sebulan yang lalu saya memperoleh bantuan berupa mobil perpustakaan keliling, beserta buku, alat peraga, sound system, dan beserta penyelenggaran operasional selama satu tahun. Ini adalah buah kami meyakinkan berbagai pihak agar kita bersama-sama mengembangkan literasi dan TPBIS di Kabupaten Purwakarta,” papar Asep.

Selain itu, kata Asep, Disipusda juga mendorong pemerintah desa di Kabupaten Purwakarta mengalokasi dana desanya untuk membangun perpustakaan desa.

“Mudah-mudahan apa yang kami lakukan bisa kita sama-sama bergerak bersama dalam rangka meningkatkan peran TPBIS, meningkatkan peran perpustakaan dan yang terakhir adalah kita menjadi bagian dari upaya negeri ini meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Asep Supriatna.***

Ayo ke Diorama !

Ingin tahu seperti apa isi Bale Panyawangan Diorama. Yuk kita ke Diorama Purwakarta dan Diorama Nusantara !