PURWAKARTA – Puisi merupakan sebuah bentuk seni sastra yang menggunakan bahasa dan kata-kata secara kreatif untuk menyampaikan perasaan, gagasan, atau pengalaman. Tentunya, ada sentuhan ritme, suara, makna, dan citra. Makanya, puisi merupakan produk sastra yang syarat makna dan keindahan.

Dulu, menulis dan membaca puisi menjadi keharusan di setiap sekolah. Dari mulai tingkatan SD hingga tingkatan lanjutannya, menyukai kegiatan membuat atau membaca puisi.

Kini, kebiasaan tersebut seolah mulai menurun. Apalagi, di tengah gempuran media sosial yang kian massif. Sehingga, anak-anak saat ini menilai puisi adalah sesuatu yang ‘aneh’.

Akan tetapi, para pegiat puisi tak ingin hal itu terjadi. Salah satunya di Kabupaten Purwakarta, para pegiat puisi yang tergabung dalam Komunitas Pena dan Lensa (Kopel), ingin melestarikan puisi lewat cara yang berbeda.

Kopel Purwakarta menggandeng Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Perpusda), menggelar malam puisi dalam rangka Hari Puisi Nasional. Acara yang penuh warna tersebut, digelar akhir pekan yang lalu.

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Disarpusda) Kabupaten Purwakarta, Asep Supriatna, mengatakan, jajarannya bersama pegiat puisi ingin melestarikan produk sastra ini dari ancaman efek negatif digitalisasi. Karena itu, Disarpusda berupaya memfasilitasi kegiatan para pegiat puisi ini.

“Kegiatannya sendiri berupa pembacaan puisi yang digelar di halaman Perpustakaan Daerah. Adapun yang membaca puisinya adalah anggota Kopel dan dari peserta yang hadir. Termasuk, saya,” ujar Asep.

Tak hanya itu, pada malam puisi tersebut dibarengi dengan diskusi terbuka terkait dengan isu-isu sosial yang tengah hangat di masyarakat bersama tokoh publik di Kabupaten Purwakarta.

Menurut Asep, tujuan digelarnya malam puisi selain dalam rangka memperingati Hari Puisi Nasional, tujuannya yaitu mengimplementasikan program kerja divisi sastra di Komunitas Pena dan Lensa.

Kemudian, memberikan ruang dan wadah anggota KOPEL untuk mengekspresikan bakat dan minatnya. Menumbuhkan kesadaran terkait dengan kondisi sosial di Indonesia secara umum dan khususnya di Purwakarta.

Selanjutnya, memberikan tempat untuk membangun kembali jiwa sastra, khususnya puisi untuk anggota Kopel dan masyarakat umum.

Manfaat dari kegiatan adalah anggota Kopel bisa mengembangkan dan meningkatkan kreativitas dalam hal sastra.
Selanjutnya, mampu memberikan pandangan baru dalam kesadaran terkait banyaknya permasalahan sosial.

Serta, meningkatkan kepekaan sosial dari seluruh anggota kopel dan masyarakat umum dan teraktualisasi melalui seni membaca puisi.

“Kami sangat mengapresiasi masih adanya pegiat puisi yang peduli terhadap produk sastra ini dan berdiskusi mengenai isu sosial yang sekarang sedang hangat diperbincangkan,” ujar Asep.

Dalam kesempatan itu, turut hadir dan membacakan puisi Kasat Lantas Polres Purwakarta AKP Muthia Khanza, Ketua Ekrap Kabupaten Purwakarta, Hadi Abdulhaqi, duta literasi Provinsi Jabar, dan para pegiat puisi.

Berikut puisi hasil karya Kepala Disarpusda Kabupaten Purwakarta:

Sastra dan Peradaban
Peradaban itu
Dimulai dari titik dan koma
Bercerita tentang masa “kamari, kiwari, dan baring supagi” masa lalu, masa kini, dan masa depan
Diksi dan kata-kata telah mewarnai setiap lintasan zaman
Pikiran, karya, dan sastra adalah cerminan peradaban
Betapa hebatnya sebuah tulisan, menggerakan banyak pikiran, menggerakan jutaaan insan, mewarnai kehidupan
Mari kawan, mari hiasi dunia dengan jari jemari mu, karena narasi yang kita buat hari ini, adalah kerja untuk keabadian peradaban

 

Ayo ke Diorama !

Ingin tahu seperti apa isi Bale Panyawangan Diorama. Yuk kita ke Diorama Purwakarta dan Diorama Nusantara !