Perjalanan Panjang Sate Maranggi Purwakarta Hingga Ditetapkan Jadi Warisan Budaya Tak Benda di Indonesia]
Siapa yang tidak tahu sate maranggi? Ya, potongan kecil daging sapi atau domba yang ditusuk dan diberi bumbu kemudian dipanggang di atas bara api itu adalah salah satu kuliner khas yang melegenda di Kabupaten Purwakarta.
Saking melegendanya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pun menetapkan kuliner khas ini sebagai salah satu warisan budaya tak benda di Indonesia.
Sepuluh tahun ke belakang, sate maranggi mungkin bisa dikatakan belum menjadi sajian kuliner khas yang dikenal masyarakat secara luas. Bahkan, kala itu sebagian besar masyarakat belum tahu apa itu sate maranggi Purwakarta dan bagaimana bentuk penyajian kuliner ini.
Bisa dibilang, kala itu popularitas sate maranggi Purwakarta masih kurang menggema, karena minimnya upaya pemerintah setempat untuk memperkenalkan keberadaan kuliner khas tersebut. Sehingga, gaungnya masih belum terlalu terdengar menggema di tataran nasional maupun secara global.

Publik tak bisa menutup mata, Purwakarta saat ini sudah berkembang begitu pesat dengan segala plus dan minusnya sejak zaman kepemimpinan bupati sebelumnya, yakni Dedi Mulyadi. Di zamannya, perubahan yang cukup besar juga terjadi pada brand sate maranggi tersebut.
Saat Dedi Mulyadi menjabat, sate maranggi menjadi salah satu alat diplomasi politik yang dilakukannya. Setiap pergi kemana dan bertemu siapa pun, dirinya selalu berbicara soal citarasa sate maranggi khas Purwakarta.
Sejak saat itulah, popularitas sate maranggi pun terus meningkat. Apalagi, pemerintahan kala itu terus melakukan sejumlah terobosan guna menumbuhkan gaung sate maranggi melalui berbagai event. Sehingga, terjadi perubahan yang cukup besar terhadap brand sate maranggi.
Pria nyentrik yang khas dengan iket kepalanya itu, dianggap berhasil mengubah sate maranggi menjadi kuliner khas yang cukup dipertaruhkan di kancah nasional maupun internasional. Bahkan, sate maranggi Purwakarta pernah menjadi sajian spesial di acara kenegaraan. Ini menjadi sebuah kebanggaan.
Sejak memimpin, Kang Dedi memang berkomitmen untuk terus mengembangkan apapun produk khas dari Purwakarta tak terkecuali sate maranggi. Tujuannya, agar kuliner khas wilayah ini mendapat pengakuan dunia internasional sebagai warisan kekayaan masyarakatnya.
Dulu, Kang Dedi juga sempat bermimpi dan tentunya mimpi masyarakat Purwakarta juga. Dia ingin menjadikan sate maranggi sebagai kuliner dunia yang ada di setiap menu sajian hotel dan restauran. Seperti halnya, steak dari Amerika dan Australia, atau Wagyu dari Jepang.


