PURWAKARTA – Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Disipusda) Kabupaten Purwakarta, Asep Supriatna, menjadi pembicara radio yang disiarkan oleh Pro 93,10 FM Purwakarta, Kamis 18 Januari 2024. Dalam kegiatan gelar wicara ini, Kepala Disipusda menjelaskan soal kefungsian arsip dan juga perpustakaan.

Gelar Wicara Pro 93,10 FM Purwakarta ini, mengusung tema Maca Pikeun Hirup jeung Hurip & Arsip Urang Keur Urang. Acara yang cukup meriah ini dipandu oleh penyiar kenamaan Nano S Dayat dan juga ditemani oleh seniman Mpap Gondho.

Live Streaming Kepala Dinas Disipusda Purwakarta, Asep Supriatna di Pro FM Purwakarta

Live Streaming Kepala Dinas Disipusda Purwakarta, Asep Supriatna di Pro FM Purwakarta

Kepala Disipusda Kabupaten Purwakarta, Asep Supriatna, mengatakan, instansinya memiliki empat bidang. Salah satunya adalah kefungsian arsip dan perpustakaan.

“Kaitan dengan acara gelar wicara hari ini, yaitu maca pikeun hirup jeung hurip dan juga arsip urang keur urang merupakan esensi atau ruh dari Disipusda,” ujar Asep.

Karena itu, dinas ini dibentuk oleh Pemkab Purwakarta tentu harus memberikan nilai manfaatnya buat masyarakat. Jangan ambon sorangan atau mikiran untuk diri sendiri alias egois.

Sehingga, bagaimana dinas ini memiliki nilai kemanfaatan buat khalayak atau masyarakat? Salah satunya hadir melalui kefungsian arsi dan juga perpustakaan.

Dulu, ada asumsi dan anggapan jika arsip itu hanya terdiri dari rak, biling kabinet, berkas yang menumpuk. Begitu pula dengan perpustakaan, asumsinya hanya jajaran rak dan tumpukan buku yang banyak.

Hari ini, semua itu harus dibuka. Cara pandang masyarakat perlu diubah. Bahkan, arsip dan perpustakaan tidak melulu demikian. Melainkan, keduanya memiliki fungsi yang lebih luas lagi.

“Saya ingin membuka itu semua, Disipusda ini jauh lebih luas lagi fungsinya,” ujar Asep.

Mengingat, membaca hari ini harus mendatangkan kemanfaatan untuk hidup dan kehidupan. Begitu pula dengan arsip.

Asep Supriatna dan Mpap Gondo Streaming Live di Pro FM

Kepala Dinas Disipusda Purwakarta Asep Supriatna dan Mpap Gondo Streaming Live di Pro FM

Arsip tidak lagi statis. Melainkan, arsip harus kemanfaatan untuk masyarakat. Keterkaitannya bagaimana arsip Purwarkarta untuk masyarakat?

Yaitu, arsip sifatnya memiliki nilai sejarah di masa lalu, hal ini harus berkesinambungan dengan masa kini, dan juga masa depan.

Sehingga, histori arsipnya harus tertata dengan baik, bisa terkomunikasikan, dan juga teredukasi dengan baik ke masyarakat. Salah satunya, generasi muda saat ini harus mengetahui sejarah Purwakarta di masa lalu untuk menatap masa depan mereka.

“Misal, di wilayah perkotaan ada namanya Cisereuh, itu harus terarsipkan, kenapa namanya demikian. Apakah nama itu, disesuaikan dengan kondisi wilayah atau potensi dari wilayah itu sendiri,” ujarnya.

Bahkan, bisa jadi para leluhur di masa dulu, menamai Cisereuh tidak ‘ujug-ujug’ ada. Melainkan, pasti ada asal usulnya.

Sehingga, arsip sekarang harus dinamis. Serta, harus menjadi edukasi bagi masyarakat. Bahkan, menjadi rujukan bagi generasi muda dalam menentukan langkah di masa kini ataupun masa depan.

Adapun tagline perpustakaan saat berubah, yakni maca pikeun hirup jeung hurip, mengindikasikan kalau perpustakaan tidak lagi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena, masanya sudah lewat.

Mengingat, masyarakat saat ini sudah mampu membaca mayoritasnya. Sehingga, tagline perpustakaan berubah membaca saat ini untuk hidup dan kehidupan dan menjadi pendukung dalam hal peningkatan kesejahteraan.

“Karenanya, buku-buku di perpustakaan daerah diubah disesuaikan dengan kebutuhan. Saat ini, diperbanyak bahan bacaan sifatnya terapan,” jelas Asep.

Sehingga, di perpustakaan ada pelatihan-pelatihan merujuk pada TPBIS. Jajarannya telah berkumpul dengan seluruh OPD dan para camat.

Disipusda hari ini, seperti papan karambol. Jika ada usulan pelatihan, maka instansinya yang tik tak dan meminta tenaga ahlinya dari OPD terkait. Kemudian, kegiatan pelatihannya bisa di perpustakaan desa atau komunitas literasi.

Dengan demikian, bukan hanya kaum intelektual saja yang bisa menikmati perpustakaan ini. Melainkan seluruh masyarakat.

Bahkan, seluruh sendi kehidupan bisa dibuatkan pelatihannya, sesuai dengan usulan masing-masing. Sehingga, seluruh masyarakat bisa terlayani.

Tak hanya itu, lanjut Asep, pihaknya menggunakan filosofi obat nyamuk bakar dalam bekerja di Disipusda. Obat nyamuk bakar ini ibaratnya pembangunan di satu wilayah.

Maka, dia harus memutar, membesar atau semakin luas, tetapi tidak melupakan pusat intinya. Pun demikian dengan kefungsian perpustakaan.

Kini, perpustakaan tidak hanya di pusat kota. Melainkan berkeliling sampai peloksok kampung, menyapa masyarakat di desa-desa, supaya semagat literasi ini tetap berkobar.

Hal itu, melalui kegiatan perpustakaan keliling, yang terhitung 2 Januari kemarin mobile-nya setiap hari. Sedangkan dulu, sepekan hanya tiga kali. Kini ditingkatkan menjadi setiap hari.

“Output dari armada perpustakaan keliling ini, diharapkan penyinta literasi bertambah. Termasuk dari kalangan masyarakat biasa. Saat ini, animonya sangat luar biasa dan pengajuan untuk layanan armada perpustakaan keliling semakin meningkat,” jelasnya.

Selain itu, di perpustakaan juga digelar pelatihan-pelatihan. Seperti, pelatihan menulis dan juga kelas gitar.

Ayo ke Diorama !

Ingin tahu seperti apa isi Bale Panyawangan Diorama. Yuk kita ke Diorama Purwakarta dan Diorama Nusantara !