Di Kabupaten Purwakarta banyak gunung, bukit, dan lembah. Kebanyakan berada di sebelah timur dan selatan kota yang punya ikon Situ Buleud tersebut. Memanjang dari Kecamatan Kiarapedes, Wanayasa, Bojong, Darangdan, Sukatani, Plered, Maniis, dan Tegalwaru.
Bukan berarti di wilayah lain tidak ada, namun jumlahnya tidak sebanyak di sebelah selatan dan timur, terutama di lingkar Gunung Burangrang.
Bukit adalah gunung kecil dan rendah, yang dalam bahasa Sunda disebut “pasir”. Bukit merupakan istilah rupabumi (geografi), yang namanya dalam bahasa Sunda hampir seluruhnya ditandai dengan awalan kata “pasir”.
Dari seribu nama tempat di Kabupaten Purwakarta yang dipilih secara acak, ada 89 nama tempat yang diawali dengan kata “pasir”. Yang secara harfiah tempat tersebut merupakan bukit atau dianggap bukit oleh masyarakat sekitarnya. Jika tercatat seluruhnya, mungkin ada lebih dari seratus “pasir” di Kabupaten Purwakarta.
Penamaannya diawali dengan kata “pasir” yang diikuti oleh ciri spesifik di tempat tersebut. Baik pohon, binatang, hal, atau peristiwa yang pernah terjadi. Dalam istilah toponimi disebut pola gabung atau pola barung. Bukan pola linier.
Jika dibukit tersebut banyak pohon pining, maka disebutlah Pasir Pining seperti yang ada di Kecamatan Tegalwaru. Pining adalah tumbuh-tumbuhan yang merumpun sejenis dengan kapol, hanggasa, dan honje. Buahnya asam manis, berada di bagian bawah pohonnya seperti kapol.
Yang banyak pohon honje disebut Pasir Honje seperti yang ada di Kecamatan Sukatani. Jika banyak pohon lengkuas (laja), dinamai Pasir Laja (Sukatani dan Wanayasa). Begitu pula jika yang banyak tumbuh pohon sirih (seureuh), maka dinamai Pasir Seureuh (Sukatani).
Di bukit tersebut ada, pernah ada, atau banyak pohon petai (peuteuy) sebagai ciri spesifiknya, maka dinamailah Pasir Peuteuy (Plered). Begitu pula dengan pohon berbuah lainnya. Oleh karena itu ada Pasir Muncang (Kiarapedes dan Pasawahan); muncang adalah kemiri, Pasir Jambu (Maniis), Pasir Nangka (Tegalwaru), dan Pasir Asem (Jatiluhur).
Jika di bukit tersebut pernah tumbuh atau ada pohon kayu yang menjadi ciri spesifiknya, maka muncullah nama-nama bukit Pasir Kihiang (Pasawahan), Pasir Pari (Bojong), Pasir Karet (Wanayasa), dan Pasir Kepuh (Sukasari). Mungkin saja pohonnya sudah lama menghilang, karena ditebang misalnya, tapi namanya tetap abadi.
Jika di bukit tersebut ada, banyak, atau pernah ada binatang tertentu, maka diberi nama dengan pola gabung istilah rupabumi (pasir) dengan nama bintang tersebut.
Misalnya Pasir Oa (Cibatu), Pasir Oray (Plered), Pasir Kuda (Wanayasa), Pasir Badak (Maniis), dan Pasir Ucing (Bojong). Kemudian dari jenis burung ada Pasir Bondol (Maniis) dan Pasir Heulang (Sukasari).
Kecuali Pasir Banteng di Cihanjawar (Bojong). Diberi nama Pasir Banteng bukan karena di bukit tersebut ada, pernah ada, atau banyak banteng, namun karena pernah menjadi lokasi markas Pasukan Banteng pada Zaman Revolusi.
Sama halnya dengan Pasir Onta (Tegalwaru). Bukan karena di sana pernah hidup atau ada onta, yang merupakan binatang endemik padang pasir, tapi bentuknya tampak seperti onta jika dilihat dari jauh. Sama seperti nama Bojongsoang di Kabupaten Bandung. Bukan karena di sana banyak angsa (soang), tapi karena bojong (tanah yang menjorok ke air) membentuk aliran sungai yang meliuk seperti leher angsa.
Bukit yang kelihatan melintang (malang) dinamai Pasir Malang (Jatiluhur, Bojong, Darangdan, dan Cibatu). Bukit yang tampak seperti kereta api dinamai Pasir Kareta (Maniis). Bukit yang tampak mencuat dari dalam tanah disebut Pasir Munjul (Sukatani). Bukit yang tampak seperti baki kuningan terbalik (rampadan) dinamai Pasir Rampadan (Wanayasa).
Bukit yang banyak batu atau berupa batu disebut Pasir Batu (Tegalwaru). Bukit yang dindingnya tinggi, sehingga untuk menaikinya memerlukan tangga (taraje), disebut Pasir Taraje (Bojong).
Bukit yang biasa dipakai untuk tempat berjalan-jalan menikmati suasana hari yang cerah (ngalantung) dinamai Pasir Lantung (Sukasari). Bukit yang enak untuk berjemur di pagi hari (moyan) disebut Pasir Pamoyanan (Tegalwaru).
Sedangkan Pasir Angin (Sukatani dan Darangdan) adalah bukit yang biasa besar anginnya, karena di sana ada tempat munculnya angin (liang angin).
Bukit tempat nongkrong Mang Andi selepas kerja disebut Pasir Andi (Bojong). Nama lain untuk Pasir Andi ini adalah Pamaenan dan Stanplas Peuyeum. Dinamakan Stanplas Peuyeum, karena suka dipergunakan untun melepas lelah para pedagang tape singkong (peuyeum) dari Bandung, yang akan atau sudah berjualan di Purwakarta.
Ada lagi Pasir Odang (Jatiluhur) dan Pasir Mantri (Wanayasa). Bukit yang berkaitan dengan Mang Odang dan Pak Mantri.
Bukit yang ada kaitannya dengan waditra (alat kesenian Sunda) juga ada. Dari sana sering terdengar suara gong (goong) kalau “kawenehan” (kebetulan), maka dinami Pasir Goong (Wanayasa). Begitu pula dengan Pasir Ketuk (Wanayasa).
Masih banyak nama bukit di Purwakarta yang perlu dikaji secara toponimis. Misalnya Pasir Teke (Darangdan), Pasir Datarkomis (Jatiluhur), dan Pasir Sindanglengis (Plered).
Penulis: Budi Rahayu Tamsyah


