PURWAKARTA – Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Purwakarta, sudah terlalu lama berada di zona nyaman. Dinas ini, jarang sekali tersorot seperti OPD lainnya di lingkungan Pemkab Purwakarta.
Karena itu, dibawah kepemimpinan Kepala Dinas Asep Supriatna, instansi ini akan dibawa berlari. Hal itu, menjadi target internal Asep Supriatna dalam memimpin 89 pegawainya.
“2024, kita akan fokus pada tata kelola di lingkungan dinas,” ujar Asep, Senin 13 November 2023.
Apa yang menjadi fokusnya ini, yaitu memerbaiki di tataran internal. Pengelolaan SDM, pengelolaan aset dinas, dan juga fokus pada kegiatan pelayanan ke masyarakat. Hade tagog, hade gogog adalah udagannya. Dinas yang tagognya (tampilan) baik, yang gogognya (kinerja dan pelayanannya) juga baik.
Menurut Asep, selama ini para pegawai di lingkungan instansinya sering minder. Apa pasalnya? Karena, Dinas Arsip dan Perpustakaan ini sering dianggap sebelah mata. Bahkan, sering disebut kasta dinas sudra.
Karena itu, sudah seyogyanya seorang leader untuk memacu semangat dan kinerja bawahannya. Salah satunya mengubah mindset dan pemahaman.
“Kita harus semangat dan membuktikan kalau pegawai arsip ini ada dan memiliki talenta seperti pegawai di OPD lain. Jangan malu atau minder bekerja di instansi ini,” ujarnya.
Langkah terbesarnya apa, yakni saat merumuskan anggaran dimana Kadis Asep Supriatna memberikan ruang gerak yang bebas untuk para anak buahnya. Seperti ke kabid-kabid mengeksplorasi ide dan gagasannya masing-masing.
Akan tetapi, perumusan anggaran ini harus mengacu pada konsep tata kelola keuangan indung atau rumah tangga. Prinsipnya, saeutik mahi, loba nyesa (sedikit cukup banyak ada sisa).
Konsep ini, lanjut Asep Supriatna, sudah diterapkan oleh kepemimpinan Bupati Dedi Mulyadi. Dari zaman Purwakarta pada tahun 2008 hanya memiliki APBD sebesar Rp 800 miliar an, sampai saat ini APBD Purwakarta di angka Rp 2,4 triliun an.
“Saat zamannya Kang Dedi, uang (APBD) segitu bisa digunakan untuk banyak kegiatan. Termasuk, pembangunan di mana-mana. Karena kuncinya saat ini ada skala prioritas,” ujarnya.
Di rumah tangga pun demikian. Harus bisa memilah mana yang jadi skala prioritas mana yang bukan. Termasuk di dinas. Misalkan, ada kegiatan rapat atau sarasehan, harus keluar kota. Hal itu bisa dihindari.
Sebagai gantinya, agenda rapat bisa dilakukan di dalam kota. Lantas makan minumnya, bisa memanfaatkan pelaku-pelaku usaha di sekitar.
Seperti contoh, saat kegiatan Bulan Kunjungan Perpustakaan beberapa waktu yang lalu, apa yang dilakukan Bidang Perpustakaan sudah oke. Kegiatannya dilakukan di halaman kantor Perpustakaan.
Lalu, makan minumnya tidak menunjuk perusahaan katering. Melainkan, memberdayakan pedagang sekitar.
“Seperti, kita memborong dagangan tukang bandros, kacang rebus, surabi, sate maranggi, awug dan lain-lain. Ini kan nilai manfaatnya langsung terasa ke masyarakat. Uang yang bergulir di Pemerintah Daerah akan ikut serta menggerakan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, lanjut Asep, di 2024 mendatang Dinas Arsip dan Perpustakaan akan memiliki cara pandang yang berbeda. Terutama mengenai tata kelola keuangan.
Tahun depan, tata kelola penggararan dilaksanakab dengan menganut pendekatan money follow function atau uang yang mengikuti fungsi.
“Tahun depan, kita diberi anggaran belanja barang dan jasa termasuk di dalamnya untuk biaya listrik, air, atk dan lainnya sebesar Rp 1,8 miliar. Insha Allah, ini akan menjadi pemacu bagi kami untuk berlari. Mari bersama-sama kita bersinergi, bersama-sama kita memaksimalkan talenta supaya hasil akhirnya bisa optimal,” jelas Asep pada amanat yang disampaikan dalam apel pagi Senin, 13 November 2023


