Dahulu ketika masih banyak tanah kosong, belum padat penduduknya seperti sekarang, banyak kebon (kebun) dan sawah di Purwakarta. Sekarang sebagian sudah hilang dan hanya meninggalkan namanya. Itupun tak sedikit pula yang digantikan dengan nama baru.

Salah satu kebun yang fenomenal di Purwakarta adalah Kebonkolot. Dinamai Kebonkolot karena merupakan salah satu kebon tertua yang ada di Kota Purwakarta.

Menurut salah seorang sesepuh Purwakarta, almarhum Abah Bagja (R. Garsubagja), kebun yang berlokasi di Kelurahan Nagrikaler itu, dulunya merupakan tempat rekreasi dalem (bupati) dan menak Purwakarta lainnya.

Kemudian tak jauh dari Kebonkolot terdapat kebun jeruk milik Juragan Oesman. Kebun jeruk garut yang cukup luas. Lokasinya berada di Perumahan Usman sekarang, menggunakan nama pemilik tanahnya yakni R. Oesman Singawinata, yang masih ada hubungan darah dengan R. Kornel Singawinata. Artinya yang kini menjadi komplek Perumahan Usman, dulunya adalah kebun jeruk garut milik Juragan Oesman.

Nama Kebonkolot juga ada di Kecamatan Plered, tepatnya di Desa Cibogohilir. Di sana juga ada Kebonkopi, yang sebagian besar sudah menjadi perkampungan. Sama dengan Kebonkopi di Desa Wanayasa (Wanayasa). Pohon kopinya relatif sudah tidak ada, hanya menyisakan tanaman kopi sebagai batas tanah milik pribadi.

Sejatinya, kebun kopi di Purwakarta itu cukup banyak dan terbilang luas. Pasalnya pada masa Tanam Paksa (Cultuurstelsel) yang diprakarsai Johannes van den Bosch (1780-1844), Purwakarta menjadi salah satu daerah andalan penghasil kopi di Priangan. Bahkan gudang kopinya berada di Wanayasa, yang kini menjadi gedung sekolah SDN 1 Wanayasa.

Kebun jeruk juga ada, masih menyisakan namanya Kebonjeruk di Desa Tegaldatar (Maniis). Tak jauh dari sana, masih di wilayah Desa Tegaldatar terdapat Kebonjengjen.

Kebonkalapa juga ada. Lokasinya di Desa Malangnengah (Sukatani). Sementara di Desa Panyindangan (Sukatani) terdapat Keboncau. Anehnya di daerah yang banyak menghasilkan pisang seperti di Sukasari, tidak ada tempat bernama Keboncau.

Sedangkan Kebonjahe di Kelurahan Nagrikaler (Purwakarta) kini tinggal menyisakan namanya. Karena letaknya berada di tengah kota, sudah penuh dengan bangunan, mulai dari rumah tinggal, pertokoan, hingga perkantoran. Masih mendingan Kebonseureuh yang ada di Desa Campakasari (Campaka).

Pasawahan

Setelah menengok kebun, sekarang kita mengunjungi sawah-sawah yang ada di Kabupaten Purwakarta.

Yang kali pertama harus diperhatikan, tentu saja Pasawahan yang sekarang menjadi nama salah satu kecamatan di Kabupaten Purwakarta.

Menurut cerita rakyat setempat, sawah-sawah di sana sudah ada sejak lama. Jauh sebelum Sindangkasih menjadi ibukota Kabupaten Karawang dengan menyandang nama baru Purwakarta tahun 1831.

Hal itu berkaitan dengan kedatangan lima ngabei ke Parakanlima, yang diperintahkan untuk mempersiapkan perbekalan pasukan Kerajaan Mataram yang akan menyerang Batavia.

Selain mempersiapkan gudang-gudang perbekalan, mereka juga membuat sawah-sawah baru. Lokasinya di daerah Pasawahan sekarang ini.

Kemudian dibuat sawah-sawah baru (sawah anyar), lebih tepatnya diperluas setelah berdirinya Kota Purwakarta. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan pangan warga kota, agar jangan sampai “nguyang” beras ke daerah lain, seperti ke daerah Karawang atau Subang.

Sawah-sawah baru itu dibuat di sana bersamaan dengan dibangunnya Kantor Keresidenan dan dibenahinya Situ Buleud dan Situ Kamojing. Untuk memasok air ke Situ Buleud, dibangun juga Solokan Gede, yang airnya bersumber dari Lembur Situ di Pondoksalam. DuluPondoksalam itu merupakan bagian dari Kecamatan Pasawahan, sebelum ada pemekaran.

Di sepanjang Solokan Gede itu dibangunlah sawah-sawah baru. Mulai dari Pasawahan sampai Tegal Onder. Saat itu Tegal Onder masih berupa tanah lapang milik Onderdistrik (pemerintah kecamatan) Purwakarta. Selain itu, dibuat pula sawah yang luas dan dikenal dengan nama Sawahlega.

Beberapa orang tua di Purwakarta mengatakan, bahwa dulu dari Situ Buleud juga ada solokan yang melalui Ciharashas (di Jalan Tengah sekarang) untuk keperluan air di penjara. Untuk pembuangannya ada solokan lagi yang melalui Cipaisan, akhirnya sampai ke Sungai Cikao.

Di Kecamatan Pasawahan sekarang banyak perkampungan yang menggunakan sawah dan pasawahan. Antara lain Sawah Tengah, Sawah Kulon, Pasawahan Kidul, dan Pasawahan Anyar. Beberapa di antaranya sudah menjadi desa.

Di kecamatan lain juga tak sedikit nama tempat yang menggunakan nama sawah. Umumnya ditandai dengan ciri spesifik yang terdapat di area tersebut.

Sawah yang luas disebut Sawahlega, seperti yang ada di Kecamatan Bojong. Luasnya meliputi Desa Pasanggrahan dan Desa Cikeris. Sementara di Desa Wanayasa (Wanayasa), Sawahlega sudah dipadati rumah penduduk dan sebagian menjadi area Pasar Wanayasa.

Jika di blok sawah tersebut ada pohon mangga gedong, maka disebutlah Sawah Gedong seperti di Desa Wanayasa (Wanayasa). Begitu pula jika ada pohon kemiri, disebut Sawah Muncang yang berada di Desa Babakan (Wanayasa).

Kemudian ada Sawah Surian, Sawah Loa, Sawah Buah, dan sebagainya. Yang berkaitan dengan tempat spesifik ada Sawah Situ, Sawah Talaga, Sawah Ereng, dan Sawah Ciburial.

Jika ada kampung baru di daerah persawahan, dinamailah Kampung Babakan Sawah seperti di Desa Gandamekar (Plered), atau Kampung Sawah di Desa Cilangkap (Jatiluhur).

Masih banyak nama area atau blok sawah di Kabupaten Purwakarta yang belum diungkapkan di sini. Baik yang masih berupa sawah, maupun yang sudah berubah peruntukannya, seperti menjadi perumahan atau pabrik.

Secara toponimis menjadi kajian yang menarik, karena nama-nama tempat tersebut mengandung kearifan lokal yang bisa dimanfaatkan untuk pengembangan lebih lanjut daerah tersebut.

Penulis: Budi Rahayu Tamsyah

Ayo ke Diorama !

Ingin tahu seperti apa isi Bale Panyawangan Diorama. Yuk kita ke Diorama Purwakarta dan Diorama Nusantara !