Sumber-sumber tradisional dan sumber-sumber kolonial menyebutkan alasan kepindahan ibukota Kabupaten Karawang di Karawang ke Wanayasa oleh R.A.A. Surianata (Dalem Santri, 1821-1828) adalah sebagai berikut:

  1. Karawang sering dilanda bencana alam berupa banjir jika musim penghujan tiba karena Karawang berada di dataran rendah yang banyak dilalui oleh aliran sungai besar dan kecil, seperti: Citarum, Cibeet dan Cilamaya.
  2. Karawang sering dilanda bencana alam kekeringan jika musim kemarau tiba dan berhawa panas serta panyakit malaria yang banyak berjangkit.
  3. Karawang sering diganggu dengan keberadaan para penjahat yang sulit diberantas karena wilayahnya yang sangat luas.
  4. Wanayasa pada waktu itu dipilih karena berhawa sejuk dan nyaman sehingga dirasa cocok untuk tempat tinggal para pejabat Kolonial Hindia Belanda.
  5. Wanayasa pada waktu itu sudah terdapat perkebunan teh yang sangat luas di kaki Gunung Burangrang dan sekitarnya (1827) juga perkebunan kopi Arabica.
  6. Wanayasa pada waktu itu telah menjadi ibukota Keresidenan Priangan (1819-1829).

R.A.A. Surianata sesungguhnya berjasa besar memajukan Kabupaten Karawang dalam bidang pertanian, terutama pertanian padi sawah, juga berjasa besar dalam membantu mangembangkan syiar agama Islam, apalagi Beliau adalah seorang Islam yang taat beribadah dan gemar beramal menurut syariat Islam, terlebih-lebih Beliau adalah keturunan bupati-bupati Bogor dan Cianjur yang kesemuanya merupakan keturunan R.A. Wangsagoparna, tokoh ulama terkemuka di Tatar Sunda. Maka padanya disandangkan gelar sebagai Dalem Santri. R.A.A. Surianata meningga dunia dan dimakam di Kp. Cibulakan, Ds. Babakan, Kec. Wanayasa, Kab. Purwakarta.
Setelah itu Beliau digantikan oleh saudaranya yang juga keturunan bupati Bogor dan Cianjur, yaitu R. Suriadinata bin R. Kartadireja (Dalem Bogor, Dalem Panyelang, 1828-1829). Yang hanya sebentar menjabat karena keburu meninggal dunia dan dimakamkan di Blok Desel, Jl. Raya Wanayasa RT 11 RW 05 Kp. Wanayaa Tengah, Ds. Wanayasa, Kec. Wanayasa, Kab. Purwakarta.
Pengganti R. Suriadinata adalah adik kandung R.A.A. Surianata yang berasal dari Bogor juga, yaitu R.A.A. Suriawinata (Dalem Shalawat, 1829-1849). Beliau sama dengan kakak kandungnya juga berjasa besar dalam membantu mangembangkan syiar agama Islam, apalagi Beliau adalah seorang Islam yang taat beribadah dan gemar beramal menurut syariat Islam, terlebih-lebih Beliau adalah keturunan bupati-bupati Bogor dan Cianjur yang kesemuanya merupakan keturunan R.A. Wangsagoparna, tokoh ulama terkemuka di Tatar Sunda. Beliau gemar sekali bershalawat kepada Nabi Muhammad saw. Sehingga oleh karena itu Beliau diberi julukan sebagai Dalem Shalawat.
Pada masa pemerintahan R.A.A. Suriawinata di Wanayasa, sebenarnya hanya sebentar saja ± 1 tahunan. Beliau kemudian memindahkan ibukota Kabupaten Karawang di Wanayasa ke Sindangkasih. Kepindahan itu terjadi pada hari Sabtu tanggal 09 Januari 1830 Masehi atau bertepatan dengan hari Sabtu tanggal 14 Rajab 1245 Hijriyah.
Adapun alasan kepindahan ibukota Kabupaten Karawang dari Wanayasa ke Sindangkasih ini adalah:

  1. Sindangkasih telah sejak lama masuk ke dalam urat nadi perekonomian dan lalu lintas perdagangan masa Kerajaan Galuh Pajajaran dan Pakuan Pajajaran (dari Galuh ke Pakuan) yang dikenal sebagai Jalan Raya Pajajaran (Pajajaran Highway) sebelum Kerajaan Pajajaran runtuh tahun 1579 Masehi, yaitu sejak dari Kawali – Karang Sambung – Tomo – Kutamaya – Cisalak – Sagalaherang – Wanayasa – Kembang Kuning – Cikao – Tanjungpura – Cibarusah – Warung Gede – Cileungsi hingga Batutulis, Pakuan.
  2. Letak Sindangkasih tak begitu jauh dari Gudang Kopi (Koffie Pahkuis) dan Pelabuhan Kopi (Koffie Haven) di Cikao.
  3. Letak Sindangkasih yang relatif lebih dekat dengan pusat pemerintahan Kolonial Hindia Belanda di Batavia jika dibandingkan Wanayasa yang dapat dihubungkan dengan kapal-kapal dan perahu-perahu bertonase di bawah 100 ton.
  4. Di wilayah Sindangkasih, tepatnya di wilayah Cilangkap dan sekitarnya dengan adanya kebijakan politik Tanam Paksa (Cultuurstelsel) banyak ditanami kapas (katoen), kayu manis (kaneel), nila (tarum, indigo), teh (thee), tembakau (tabak).
  5. Wanayasa yang sudah dipersiapkan sebagai daerah produksi pertanian, apalagi kemudian ada kebijakan politik Tanam Paksa (Cultuurstelsel) 1830-1870, seperti kopi (koffie), teh (thee), rempah-rempah dan lain-lain.

Secara keseluruhan di wilayah Kabupaten Karawang yang kelak di kemudian hari tumbuh dan berkembang dengan adanya kebijakan berupa Undang-Undang Pertanian dan Undang-Undang Gula (Agrarische Wet en Suikerwet) pada tahun 1870 yang berarti, bahwa perusahaan swasta dapat mendirikan usahanya di Hindia Belanda. Perusahaan-perusahaan ini juga memperkenalkan produk baru seperti tembakau dan karet. Bahan baku dari Hindia Timur kemudian diolah di Belanda. Oleh karena itu, Hindia Belanda dan Jawa pada khususnya, menjadi landasan perekonomian Belanda. Penghapusan Sistem Cultuurstelsel tidak memperbaiki kondisi penduduk asli. Biaya modernisasi negara kolonial harus ditanggung oleh koloni itu sendiri. Perdagangan opium baru berhenti setelah pendudukan Jepang pada tahun 1942. Beberapa tanaman pada masa 1870-1942, antara lain, sebagai berikut: gula tebu (rietsuiker), kakao (cacao), kapuk (kapok), karet (rubber), kelapa sawit (oliepalmen), kelapa (klapper, kokosnoot), kina (kinine), kopi (koffie), padi (rijst), serai wangi (citronella), serat sisal (vezel), singkong (cassave), the (thee) dan tembakau (tabak).
Setelah kepindahan ke Sindangkasih dan berada di sana selama ± 1 tahun 6 bulan, maka Beliau mengusulkan perubahan nama ibukota Kabupaten Karawang di Sindangkasih menjadi Purwakarta, yang berarti awal pertumbuhan dan kesejahteraan, yang kemudian disetujui oleh Assistent Resident Karawang di Sindangkasih Guillaume de Seriere yang kemudian mengeluarkan Surat Persetujuan Nomor 40 tertanggal 20 Juli 1831 dan Surat Keputusan (Besluiten) Nomor 2 tertanggal 20 Juli 1831. Tanggal inilah yang kemudian kita jadikan Hari Jadi Purwakarta.

(R.M.A. AHMAD SAID WIDODO, Peneliti dan Penulis Sejarah Purwakarta).

Ayo ke Diorama !

Ingin tahu seperti apa isi Bale Panyawangan Diorama. Yuk kita ke Diorama Purwakarta dan Diorama Nusantara !