Di Kabupaten Purwakarta banyak gunung. Terutama di bagian timur dan selatannya. Memanjang dari Kiarapedes hingga Tegalwaru. Dan yang tercatat terdapat 25 gunung atau nama tempat yang menggunakan istilah rupabumi (geografis) gunung.
Yang tampak jelas dan paling tinggi adalah Gunung Burangrang. Salah satu gunung yang merupakan sisa letusan Gunung Sunda. Luasnya meliputi empat kabupaten dan kota, yakni Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang, Kabupaten Bandung Barat, dan Kota Cimahi.
Di Kabupaten Purwakarta sendiri, Gunung Burangrang meliputi empat kecamatan, yakni Kecamatan Kiarapedes, Kecamatan Wanayasa, Kecamatan Bojong, dan Kecamatan Darangdan.
Kemudian di Kecamatan Tegalwaru ada Gunung Anaga, Gunung Bongkok, Gunung Parang, dan Gunung Solasih. Di Kecamatan Sukasari ada Gunung Haur, Gunung Lesang, Gunung Karadak, dan Gunung Buleud.
Sedangkan di Kecamatan Maniis ada Gunung Karung dan Gunung Mandalawangi. Di Kecamatan Jatiluhur ada Gunung Selaawi dan Gunung Cilalawi.
Sementara itu Gunung Cupu berada di Kecamatan Plered. Sedangkan Gunung Lembu termasuk ke wilayah Kecamatan Sukatani. Sama halnya dengan Gunung Putri serta Gunung Sembung.
Di Kecamatan Darangdan ada Gunung Hejo, Gunung Canar, dan Gunung Patenggeng. Di Kecamatan Bojong ada Gunung Pangukusan, Gunung Bakti, dan Gunung Gedogan.
Di Kecamatan Wanayasa ada Gunung Sunda dan Gunung Wayang. Sedangkan di Kecamatan Kiarapedes terdapat Gunung Geulis.
Jika kita cermati, ternyata banyak nama gunung di Kabupaten Purwakarta yang sama dengan nama gunung di kabupaten/kota lain. Bisa disebutkan punya kembaran, atau kata urang Sunda “gunung sakembaran”.
Gunung Bongkok, misalnya, selain di Kecamatan Tegalwaru (Purwakarta), ada juga di Kecamatan Salopa (Kabupaten Tasikmalaya) dan tapal batas Kecamatan Warungkiara dengan Jampang Tengah (Kabupaten Sukabumi).
Mungkin saja karena gunung-gunung itu mempunyai persamaan tampak seperti bungkuk dilihat dari jauh. Padahal Gunung Bongkok di Tegalwaru (Purwakarta) namanya sudah ada sejak abad ke-16 M. Buktinya sudah tercatat dalam naskah Sunda kuno “Bujangga Manik” yang diperkirakan ditulis pada abad ke-16 M.
Ada lima gunung di Kabupaten Purwakarta yang tercatat dalam naskah “Bujangga Manik” tersebut. Yakni Gunung Sempil, Gunung Bongkok, Gunung Cungcung, Gunung Burangrang, dan Gunung Patenggeng. Yang namanya sekarang menghilang adalah Gunung Sempil dan Gunung Cungcung. Mungkin sekarang sudah berganti nama. Yang jelas, lokasinya tidak jauh dari Gunung Bongkok. Dari arah barat, sesudah Gunung Bongkok sebelum Gunung Burangrang.
Gunung Haur di Kecamatan Sukasari (Purwakarta), mempunyai nama kembar di Kecamatan Cigugur (Kabupaten Pangandaran) dan Kecataman Sindangkasih (Kabupaten Majalengka). Mungkin saja pada ketiga gunung tersebut mempunyai ciri spesifik yang sama yakni pohon bambu aur (haur),
Gunung Karung di Kecamatan Maniis, mempunyai saudara kembar Gunung Karung di Kecamatan Luragung (Kabupaten Majalengka). Bahkan nama Maniis pun terdapat di Kabupaten Majalengka, nama desa di Kecamatan Cingambul.
Gunung Cupu di Kecamatan Plered mempunyai saudara senama di Kecamatan Sindangkasih (Kabupaten Ciamis) dan Kecamatan Cimanuk (Kabupaten Pandeglang, Banten). Nama tempat Sindangkasih pun, selain di Kabupaten Purwakarta, ada di Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Ciamis. Bahan kajian yang menarik.
Di Kecamatan Sukatani (Purwakarta) ada Gunung Sembung, mempunyai nama yang sama dengan gunung yang berada di Kabupaten Cirebon. Berdasarkan cerita rakyat setempat, di Gunung Sembung Sukatani terdapat makam keramat, yakni Makam Embah Kuwu atau Syeh Natawali, salah seorang ulama penyebar agama Islam, yang berasal dari Cirebon.
Gunung Geulis di Kecamatan Kiarapedes (Purwakarta), mempunyai tiga saudara senama. Yakni nama desa di Kecamatan Sukaraja (Kabupaten Bogor), gunung di Kecamatan Jatinangor (Kabupaten Sumedang), dan gunung di Kecamatan Baleendah (Kabupaten Bandung).
Gunung Wayang di Kecamatan Wanayasa (Purwakarta) mempunyai saudara kembar di Kecamatan Kertasari (Kabupaten Bandung), tempat Situ Cisanti berada yang menjadi lokasi titik 0 Sungai Citarum.
Sementara Gunung Bakti di Desa Cihanjawar, Kecamatan Bojong (Purwakarta) mempunyai kisah yang berbeda. Rumah-rumah penduduk di sana sempat rusak karena dibakar gerombolan DI/TII pada awal tahun 1960-an. Kemudian diperbaiki dengan cara gotong royong, yang dalam bahasa Sunda disebut “dibaktikeun” oleh seluruh komponen masyarakat di Kecamatan Bojong. Maka sejak itu dinamailah Gunung Bakti.
Gunung Buleud, Gunung Putri, Gunung Pangukusan, bahkan nama tempat lainnya di Purwakarta mempunyai nama kembarannya di daerah lain. Itu merupakan kajian toponimi yang menarik.
Penulis: Budi Rahayu Tamsyah


