Pada suatu hari seorang Penjabat Sementara (Pjs) Kepala Desa Cikaobandung Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat, yang bernama Hendra Setiawan, S.M. didatangi oleh pihak Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), yaitu perusahaan yang mengoperasikan jaringan kereta cepat Indonesia yang rencananya akan dibangun dengan rute Jakarta-Surabaya. Perusahaan ini merupakan proyek bersama Pilar Sinergi BUMN Indonesia, konsorsium dari 4 BUMN Indonesia: PT. Kereta Api Indonesia (Persero), PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk., PT Perkebunan Nusantara VIII dan PT. Jasa Marga (Persero) Tbk. dengan China Railway Group Limited.
KCIC ini sedang akan menggarap proyek pembangunan kereta api cepat tahap pertama Jakarta-Bandung yang akan menghubungkan Jakarta dengan Bandung, menempuh jarak 150 km dalam tempo kurang lebih 35 menit.
Pihak KCIC menyampaikan maksud dan tujuannya, bahwa proyek mereka akan melewati area Tempat Pemakaman Umum (TPU) di Kampung Cikao II RT 010 RW 004 Desa Cikaobandung, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Dan menawarkan apakah makam-makamnya akan dipindahkan ke tempat lain yang lebih baik dan lebih layak. Kepala Desa Cikaobandung pun menyampaikan, bahwa mau tidak mau harus memindahkan makam-makam tersebut dan bila memungkinkan barangkali pihak KCIC bersedia memberikan bantuan sumbangan agar makam-makam itu dapat penggantinya secara layak.
Pada akhirnya KCIC memyetujui akan memberikan bantuan berupa CSR (Corporate Social Responsibility) atau kepedulian sosial perusahaan dengan nilai Rp 1.500.000.000 (satu milyar lima ratus juta Rupiah) yang akan digunakan untuk membangun makam-makam baru sebanyak 600 (enam ratus) buah makam lengkap dengan batu nisannya, termasuk membuat makam khusus bagi Almarhum K.H.R. Asy’ari (Mama Guru Tonggoh, Almarhumah isterinya Ibu Guru Tonggoh, Almarhum K.H. Zainal Abidin dan Almarhum Sunan Hamangkurat V (Sunan Kuning, Raden Mas Garendi) dari Kasultanan Mataram Islam.
Mengenai makam Sunan Hamangkurat V (Sunan Kuning, Raden Mas Garendi) ini aku dibuat terkejut karena percaya tidak percaya, bahwa makam salah seorang leluhurku justru berada di sini. Sumber sejarah menyebutkan, bahwa beliau setelah melakukan perlawanan bersama orang-orang Cina di wilayah Kasultanan Mataram Islam terhadap kekuasaan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) atau Kompeni, dimana peristiwa ini dikenal sebagai Geger Pecinan (1740-1743), pasca pembantaian orang-orang Cina di Batavia oleh Gouverneur Generaal Adriaan Valckenier (1740), kemudian dibuang ke Ceylon (Sri Langka) yang secara salah kaprah kompleks lokalisasi Sunan Kuning di Semarang, Jawa Tengah diasosiasikan sebagai makam Sunan Hamangkurat V (Sunan Kuning) ini.
Keberadaan makam ini akan sangat menggemparkan bagi keturunan Mataram karena sejarah selama ini dicatat sangat berbeda. Juga dalam silsilah keturunan raja-raja Mataram Islam juga ada kesengajaan menghilangkan sejarah perjuangan Sunan Hamangkurat V ini. Entah jika ada penelitian yang mendalam tentang lokasi makam-makam para pahlawan dan pejuang yang dibuang oleh VOC atau Kolonial Hindia Belanda di Ceylon (Sri Langka) dan penelitian menemukan hal yang sebenarnya, maka akan terjawab dimana sebenarnya keberadaan makam Sunan Hamangkurat V.
Aku sendiri mendapatkan informasi ini dari pak Hendra Setiawan yang telah bermimpi didatangi oleh K.H.R. Asy’ari (Mama Guru Tonggoh), Almarhumah isterinya Ibu Guru Tonggoh, Almarhum K.H. Zainal Abidin dan Almarhum Sunan Hamangkurat V (Sunan Kuning, Raden Mas Garendi) ketika dia tidur malam hari di kompleks Makam Astana Gede Tunggul Rahayu, Cikaobandung. Dari keterangan berdasarkan pesan yang diperoleh, ada satu pesan khusus yang disampaikan, bahwa kelak akan ada salah seorang keturunan Sunan Hamangkurat V yang akan datang dan dialah yang akan mulai membuka kebenaran sejarahnya. Dan dia adalah aku sendiri. Pak Hendra yang sudah mengenalku sejak beberapa waktu yang lalu sengaja menyimpan rahasia ini sampai tiba saat yang tepat.
Barangkali secara akademik informasi lewat mimpi tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, namun sebagai orang yang percaya, bahwa Allah memberikan tanda-tanda kebenaran kepada pada Nabi dan Rasul serta manusia yang dikehendaki lewat mimpi, hal itu bisa saja benar adanya. Tinggal soal kebenaran sejarah yang tersembunyi perlu dibuktikan dengan penelitian ilmiah bidang sejarah dan arkeologi, misalnya saja dengan mendatangi situs-situs makam bersejarah di Cikaobandung ini maupun makam-makam dari para pahlawan atau pejuang bangsa yang berada di Ceylon (Sri Langka) dan/atau menggalinya serta melakukan uji forensik, C-14 Carbon Dating Analysis, Deoxyribonucleic acid (DNA) dan lain-lain. Ilmu pengetahuan modern sangat menjunjung tinggi logika, namun mereka lupa, bahwa di balik semua itu ada hal-hal yang di luar logika yang patut juga kita percayai.
C14 carbon dating analysis atau analisis C 14 adalah salah satu cara dalam menentukan pertanggalan atau umur secara mutlak suatu tinggalan arkeologis dengan cara menghitung sisa karbon (C 14) pada artefak. Umur mutlak atau absolut yang dihasilkan dapat memberi gambaran pasti pada periode apa tinggalan arkeologis itu. Tetapi pertanggalan ini juga ada batasnya yang dinamakan half-life atau halftime. Pengertian half-life atau halftime adalah waktu yang dibutuhkan pada proses penurunan radioaktif yang terkandung dalam tinggalan arkeologis.
Singkat cerita, maka pada akhirnya dilakukan pemindahan makam dari lokasi yang lama ke lokasi yang baru, di sebuah lembah di bawah sebagian makam yang lain yang tidak perlu dipindahkan. Dan kesemuanya dengan bentuk makam dan batu nisan yang seragam sehingga indah dipandang mata karena pemandangan alamnya cukup asri dan menarik. Dibutuhkan waktu selama kurang lebih 1 tahun sejak dimulai pembicaraan pemindahan makam hingga selesai dan diresmikan.
Setelah beberapa waktu lamanya, maka tibalah acara peresmian yang dihadiri oleh Pjs. Kepala Desa, Babinsa, Babinkamtibmas, para pengurus Badan Permusyawaratan Desa (BPD), para pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), para alim ulama dan tokoh masyarakat yang lainnya dan pihak KCIC. (R.M.A. AHMAD SAID WIDODO, Peneliti dan Penulis Sejarah Purwakarta).


