Ada anggapan bahwa asal-usul nama Cikao ada kaitannya dengan Cina Makao yang memberontak pada Pemerintah Hindia Belanda di Purwakarta. Anggapan yang tidak tepat dan hanya didasarkan pada kisah cocokologi.

Memang benar pada saat peristiwa “Karaman di Purwakarta” itu Pelabuhan Cikao ikut dijarah, bahkan gudang-gudangnya dibakar pemberontak Cina Makao. Namun nama Cikao sudah ada sejak Jaman Pajajaran. Jauh sebelum peristiwa “Karaman di Purwakarta” yang terjadi 8-9 Mei 1832.

Penamaan nama Pelabuhan Cikao karena letaknya berada di muara Sungai Cikao, yang bermuara di Sungai Citarum. Kao adalah sejenis pohon yang banyak tumbuh di pegunungan. Sementara Sungai Cikao berhulu di Gunung Burangrang.

Pada peta yang dibuat Belanda pada abad ke-17, misalnya, nama tempat Cikao sudah ada. Titik lokasinya tepat di daerah Cikao Purwakarta sekarang. Ada tiga tempat di Purwakarta yang terdapat dalam peta tersebut, yakni Wanayasa, Cikao, dan Cikumpay.

Pelabuhan Cikao merupakan pelabuhan sungai di pedalaman Tatar Sunda yang cukup besar. Dan kerap didatangi kapal-kapal yang lumayan besar juga. Lokasi dermaganya disebut Talibaju.

Berdasarkan kajian etimologis, kuat dugaan nama yang sebenarnya adalah Talibajo. Berasal dari bahasa Sanskrit dan Kawi, bahasa yang menjadi dasar (proto linguist) bahasa-bahasa di Nusantara, termasuk bahasa Sunda, Jawa, dan Melayu.

Tali artinya “sungai”, bajo artinya “mengarungi lautan”. Secara harfiah Talibajo berarti “tempat di sungai untuk mengarungi lautan”. Dengan kata lain bisa dikatakan “pelabuhan sungai untuk menuju ke laut”, singkatnya “pelabuhan transit” di pedalaman. Mungkin karena “salah mendengar” atau apa, masyarakat menyebut “talibajo” menjadi “talibaju”.

Dengan catatan, kata “bajo” dalam bahasa Sunda sekarang berarti “bajak laut”. Padahal aslinya dalam bahasa Kawi “bajo” berarti “mengarungi lautan”. Perubahan makna yang lumrah terjadi pada perkembangan bahasa apapun. Begitu pula dengan pengucapan “talibajo” menjadi “talibaju”.

PELABUHAN PEDALAMAN YANG PENTING

Sejak dulu Pelabuhan Cikao merupakan pelabuhan penting di Tatar Sunda. Hasil bumi dari daerah Priangan, seperti Bandung dan Cianjur dibawa ke Pelabuhan Cikao. Lalu dari sana diangkut ke Pelabuhan Sunda Kalapa atau Karawang, untuk dijual atau diekspor ke mancanegara.

Belanda juga memanfaatkan Pelabuhan Cikao untuk mengangkut hasil perkebunan dari Tatar Sunda yang subur ke negaranya, terutama kopi dan teh. Mereka memanfaatkan akses jalan yang dikenal para sejarawan dengan sebutan “Highway Pajajaran”, yang melewati Pelabuhan Cikao. Yaitu jalan yang menghubungkan ibukota Kerajaan Galuh di Kawali dengan ibukota Kerajaan Sunda di Bogor.

Sepenggal “Highway Pajajaran” itu melintasi Kabupaten Purwakarta sekarang, yakni dari Garokgek (Kiarapedes) – Wanayasa – Pondoksalam – Pasawahan – Parakanlima (Jatiluhur) – Ciganea – Kembangkuning – Cikao – Cikumpay. Jalan lama dari Pasawahan belok kiri ke Parakanlima. Sementara jalan baru, setelah Sindangkasih menjadi lokasi ibukota baru Karawang dengan nama Purwakarta, lurus sampai Simpang kemudian belok kiri ke Cigedogan. Menyeberangi Sungai Cikao di bawah Sasak Beusi sekarang, lalu ke Ciganea dan seterusnya.

Peta Cikao A 0054, Koleksi Frederik de Haan, Arsip Nasional Republik Indonesia

Peta Cikao A 0054, Koleksi Frederik de Haan, Arsip Nasional Republik Indonesia

Ketika ada wacana Pemerintah Hindia Belanda akan memindahkan ibukota dari Batavia (Jakarta) ke Bandung, Pelabuhan Cikao mempunyai peranan yang penting. Begitu pula dengan penggal “Highway Pajajaran” yang melintasi Purwakarta dan Subang.

Bukan sekadar wacana, tapi juga direalisasikan dengan mulai membangun gedung-gedung pemerintahan yang kokoh dan megah. Beberapa di antaranya bangunan yang kini dikenal dengan nama Gedung Sate, Gedung PLN, Gedung Kologdam, dan Gedung Merdeka.

Pemerintah Hindia Belanda mulai membangun calon ibukota barunya pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Material bangunannya yang urgen, didatangkan dari Batavia menggunakan kapal-kapal laut melalui Sungai Citarum sampai ke Pelabuhan Cikao. Dari sana dibawa menggunakan pedati yang ditarik kerbau, bukan sapi atau kuda, sampai ke Bandung.

Rute yang dilaluinya, ya penggal jalan “Highway Pajajaran”. Dari Cikao ke Ciganea melewati Kembangkuning. Dari Ciganea ke Pasawahan melalui Parakanlima, melintasi Jambatan Koneng sekarang. Dari Pasawahan terus ke timur melewati Tanjakan Pasirpanjang (Rancadarah sekarang), kemudian ke Wanayasa – Sagalaherang – Jalancagak sampai ke Cisalak. Dari Jalancagak tidak belok ke kanan via Ciater, karena saat itu belum ada jalan, jika pun ada masih berupa jalan setapak atau jalan kontrak.

Dari CIsalak berbelok ke kanan melalui Bukanagara, Cibodas Lembang, sampai di bagian atas Maribaya sekarang. Dari sana berbelok ke Dago, lalu ke Coblong. Dari sana menuju lokasi gedung yang akan dibangun. Ke kiri ke Gasibu, ke kanan ke Cikapundung. Itulah sebabnya, menurut Haryoto Kunto dalam bukunya Bandung Tempo Doeloe Jalan Cikapundung dulu disebut Jalan Wanayasa.

Kemudian muncul nama Cikao Bandung. Hal itu bukan karena banyak orang Bandung yang tinggal di Pelabuhan Cikao, tapi karena masalah administratif. Pada suatu ketika, Cikao terbagi dua dengan batas Sungai Cikao. Sebelah selatan masuk ke Kabupaten Bandung dan sebelah utara masuk ke Kabupaten Karawang, sehingga ada sebutan Cikao Bandung dan Cikao Karawang. Namun nama yang tetap bertahan dan populer adalah Cikao Bandung.

Sedangkan perkampungan yang kali pertama ada di Cikao adalah Babakan Cikao. Secara historis, sangat layak jika kini menjadi nama salah satu kecamatan di Purwakarta.

Yang jelas, sampai awal abad ke-20 Pelabuhan Cikao dengan dermaganya Talibajo, masih bisa dilalui kapal-kapal laut yang besar. Bahkan kerap dipakai untuk memberangkatkan jemaah haji ketika masih menggunakan kapal laut. Baru pada tahun 1920-an, ketika Bendungan Parisdo dibangun di Klari, Karawang, kapal besar tak bisa masuk sampai ke Pelabuhan Cikao. Bendungan Parisdo kini lebih dikenal dengan nama Bendungan Walahar.

Penulis: Budi Rahayu Tamsyah

Ayo ke Diorama !

Ingin tahu seperti apa isi Bale Panyawangan Diorama. Yuk kita ke Diorama Purwakarta dan Diorama Nusantara !