PURWAKARTA – Rancadarah, merupakan salah satu wilayah yang cukup populer di Kabupaten Purwakarta. Banyak cerita mulai dari mistis hingga sejarah, membahas tentang wilayah yang ada di antara Purwakarta-Wanayasa tepatnya di Kecamatan Pondoksalam ini.

Jika anda akan berkunjung ke arah selatan Purwakarta, sudah pasti melewati wilayah yang dinamakan Rancadarah. Jalan yang berkelok, dengan pemandangan alam nan hijau, karena sisi kiri dan kanan sepanjang Rancadarah ini adalah hutan, akan menambah syahdu perjalanan anda.

Konon katanya, Rancadarah dulunya bernama tanjakan Pasir Panjang. Karena, melintasi wilayah ini memang sangat terasa nanjaknya. Apalagi, jika kita melintasinya dengan cara berjakan kaki, itu sangat terasa menguras tenaga.

Rancadarah ini kerap dihubungkan dengan
Pasir Nagara Cina, yang merupakan sebuah daerah di sebelah barat laut Wanayasa. Nama tanjakan Pasir Panjang yang merupakan penggal jalan antara Wanayasa-Purwakarta ini, berubah menjadi Rancadarah setelah terjadi pemberontakan Cina Makao di Purwakarta tahun 1832.

Peristiwa itu bermula dari pekerja Cina Makao yang mengerjakan pembukaan perkebunan teh di Wanayasa, yang ditempatkan di Pasir Nagara Cina atau Garacina.

Para pekerja Cina itu tidak merasa puas, karena upah kerjanya selalu terlambat diterima serta banyak potongan. Sementara itu, di daerah Cilangkap Purwakarta, banyak juga Cina Makao pendatang yang membuka lahan-lahan pertanian.

Mereka juga kecewa, karena penguasa saat itu melarang mereka melanjutkan pembukaan lahan-lahan baru di sana. Akhirnya, Cina Makao pekerja teh di Pasir Nagara Cina, diam-diam berunding dengan Cina Makao Cilangkap untuk melakukan perlawanan.

Tanggal 8 dan 9 Mei 1832, terjadilah kerusuhan besar-besaran di Purwakarta. Cina Makao membakari gedung-gedung dan bangunan pemerintah, yang baru dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Karawang bersama dengan Pemerintah Hindia Belanda.

Gudang-gudang di Pelabuhan Cikao pun dibakar habis. Bupati Karawang saat itu, Raden Adipati Suriawinata yang dikenal dengan julukannya Dalem Solawat, bisa meloloskan diri dari pendopo dan bersembunyi di loji Belanda di Kembangkuning, di daerah Jatiluhur saat ini.

Untuk memadamkan kerusuhan tersebut, didatangkanlah bala bantuan dari beberapa kabupaten. Seperti Cianjur, Sumedang, dan Bandung.

PERISTIWA RANCDARAH

Ilustrasi Peristiwa Rancadarah

Sedangkan, pasukan tentara Hindia Belanda yang bermarkas di Wanayasa, juga turun ke Purwakarta dengan membawa tiga buah meriam, dipimpin oleh komandannya langsung Heinrich Christian Macklot.

Mereka bersama-sama mengejar para perusuh hingga ke sebelah barat. Karena ternyata, kerusuhan itu menyebar hingga ke Tanjungpura, Karawang.

Pada saat yang bersamaan, pasukan tentara Belanda dari Batavia yang dipimpin oleh Alibasyah Sentot Prawirodirjo, telah berhasil mengatasi kerusuhan di sana.

Banyak Cina Makao yang terbunuh. Sisanya kembali ke daerah Purwakarta. Tapi di daerah Dawuan telah dihadang oleh pasukan Macklot.

Gerombolan Cina Makao yang telah gelap mata itu, melakukan perlawanan habis-habisan. Macklot terkena sabetan senjata tajam Cina Makao. Ia terluka parah dan tiga hari kemudian, tepatnya 12 Mei 1832, ia meninggal dunia di Purwakarta dalam usia 33 tahun.

Sementara itu, Cina Makao dari Wanayasa berencana akan menyerang Purwakarta dari arah selatan. Cina Makao dari Nagara Cina berduyun-duyun turun gunung menuju Purwakarta.

Perlawanan Cina Makao dari kaki Gunung Burangrang ini, terjadi pada tanggal 10 Mei 1832, sehari setelah terjadinya kerusuhan di Purwakarta.

Mereka membuat kerusuhan di sepanjang jalan Wanayasa-Purwakarta. Namun anehnya, mereka tidak mengganggu bangunan ataupun penduduk yang berada di Kota Wanayasa.

Ada dugaan, mereka berjalan melalui daerah pinggiran Wanayasa, mungkin untuk menghindari penjagaan yang lebih ketat setelah adanya kabar kerusuhan di Purwakarta.

Ilustrasi Peristiwa Rancadarah

Ilustrasi Peristiwa Rancadarah

Mereka melintasi perkebunan teh, daerah yang sudah sangat dikenalnya. Karena Cina Makao ini sudah lebih dari empat tahun bekerja di sana.

Bahkan, sebagian dari rombongan mereka sempat membunuh Sheper Leau, kepala perkebunan teh di Wanayasa yang terkenal bengis. Sheper Leau dilempari dengan batu, sampai akhirnya disembelih. Mayatnya dibawa, lalu dibuang di tengah-tengah hutan.

Kemudian hutan tersebut dikenal dengan nama Leuweung Ciperlaw (Hutan Ciperlaw), yang diucapkan dengan lidah masyarakat setempat menjadi Leuweung Ciparaliu, yang berada di Desa Cibeber, Kecamatan Kiarapedes, berbatasan dengan Kecamatan Wanayasa.

Tempat mayat Sheper Leau dibuang ditandai dengan sebuah batu besar, yang kini disebut dengan Batu Tanceb. Setelah itu, cina Makao itu bersatu setelah keluar dari Kota Wanayasa dan mulai melakukan aksi pemberontakannya.

Rupanya aksi Cina Makao dari Pasir Nagara Cina ini, dengan cepat terendus oleh pasukan Belanda di Purwakarta. Mereka pun lantas naik ke arah Wanayasa. Dan bertemu dengan gerombolan Cina Makao di tanjakan Pasir Panjang.

Pertempuran pun tak dapat dihindari. Dalam pertempuran tersebut, banyak korban dari kedua belah pihak. Darah pun menggenangi tanah di mana-mana, layaknya sebuah rawa (dalam bahasa Sunda disebut ranca).

Maka daerah itu pun oleh masyarakat setempat dinamai Rancadarah. Mayat-mayat yang berserakan itu, lantas dibuang ke sebuah lembah di sekitar Rancadarah.

Untuk mendata dan mencatat korban, harus menggunakan sigay. Yakni tangga bambu yang biasa dipergunakan untuk menyadap nira enau. Maka daerah itupun dinamai Legok Sigay.

Beberapa orang Cina Makao yang selamat, kembali ke Wanayasa. Mereka bersembunyi di sekitar Pasir Nagara Cina. Lalu berbaur dengan masyarakat setempat.

Bahkan ada yang bermukim di perkampungan di dalam Kota Wanayasa. Gang Pringgandani di samping Klinik Dokter Ridwan, misalnya, dulunya bernama Gang Babah Kecil.

Karena di ujung gang tersebut, tinggal seorang Cina Makao dari Nagara Cina, yang bertubuh kecil. Tak ada yang tahu nama sebenarnya, tidak diketahui pula menikah dengan penduduk setempat.

Yang jelas, Babah Kecil ditakdirkan berusia panjang. Sehingga orang-orang tua dulu di Wanayasa masih sempat mendengar kisah pertempuran Cina Makao dengan tentara Belanda di Rancadarah, langsung dari Babah Kecil ini.

Sejak saat itulah, untuk sementara Pasir Nagara Cina dibiarkan tak berpenghuni. Selain tugas para Cina Makao dianggap sudah selesai dengan terbentangnya perkebunan teh di Wanayasa, pihak perkebunan juga merekrut tenaga kerja (kuli kontrak) pribumi, yang sebagian besar berasal dari daerah setempat.

Walaupun demikian, beberapa peninggalan Cina Makao yang menghuni Pasir Nagara Cina, masih bisa ditemukan. Antara lain dengan adanya daerah yang dinamai Pintu Hek di Cileungsing Wetan.

Pintu Hek dulunya tempat pintu gerbang untuk memasuki kawasan Pasir Nagara Cina. Lengkap dengan penjaganya, yang juga orang-orang Cina Makao.

Beberapa tahun yang lalu, dikabarkan ada orang yang menemukan keramik Cina dari kawasan Pasir Nagara Cina tersebut. Namun sayang, sekarang benda-benda yang ditemukan tersebut tidak diketahui keberadaannya.

Ketika Indonesia merdeka, Belanda meninggalkan sekitar 324 perusahaan perkebunan teh di Nusantara. Termasuk di antaranya tempat produksi teh yang ada di Desa Sindangpanon Kecamatan Bojong (Purwakarta) dan Desa Serangsari Kecamatan Serangpanjang (Subang).

Dan semua itu punya kaitan erat dengan Pasir Nagara Cina, sebuah bukit di kaki Gunung Burangrang. Sayangnya, tak banyak orang yang tahu.

 

Cina Makao Datang ke Purwakarta Berawal dari Tanaman Teh

Sejarah mengabarkan bahwa kekayaan alam negara kita pernah dieksploitasi habis-habisan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Dan hal itu diawali dengan dibangunnya perkebunan teh di berbagai daerah, terutama di Tatar Sunda yang terkenal subur.

Tapi rupanya tak banyak orang yang tahu, bahwa semua itu bermula dari sebuah tempat di kaki Gunung Burangrang, yang kini dikenal dengan nama Pasir Nagara Cina atau Garacina.

Pasir Nagara Cina adalah sebuah tempat yang secara administratif berada di Desa Wanayasa, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Purwakarta.

Sejatinya tanaman teh berasal dari Negeri Cina. Kali pertama diperkenalkan di Benua Eropa sekitar tahun 1595 oleh Jan Huijghen van Linschoten.

Masuk ke Indonesia tahun 1684, berupa biji teh dari Jepang yang dibawa oleh seorang Jerman bernama Andreas Cleyer, dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta.

Pada tahun 1694, seorang pendeta bernama F. Valentijn melaporkan melihat perdu teh muda berasal dari Cina tumbuh di Taman Istana Gubernur Jendral Camphuijs di Jakarta.

Pada tahun 1826 tanaman teh berhasil ditanam melengkapi Kebun Raya Bogor. Pada tahun 1827 teh ditanam di Kebun Percobaan Cisurupan (Garut) dan Wanayasa (Purwakarta).

Diduga kuat kebun percobaan di Wanayasa terletak di daerah Pasir Nagara Cina sekarang. Entah kebetulan atau tidak, di daerah sekitar Pasir Nagara Cina terdapat daerah bernama Cisurupan. Sekarang menjadi area persawahan penduduk dan disebut Blok Cisurupan.

Setahun kemudian, Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh, menanam pohon teh secara besar-besaran di Wanayasa (Purwakarta) dan Raung (Banyuwangi).

Kebun teh di Wanayasa dianggap sukses. Areanya membentang dari daerah Pamundayan sekarang, ke selatan hingga Sindangpanon, ke utara hingga ke Kiarapedes, ke timur sampai ke Parakanceuri yang berbatasan dengan Sungai Cilamaya.

Keberhasilan Jacobson membuka perkebunan teh dalam skala besar, membuka jalan bagi usaha perkebunan teh di Pulau Jawa.

Untuk menyukseskan programnya tersebut, Jacobson mendatangkan beberapa buruh Cina dari beberapa daerah sekitar Karawang dan Batavia. Mereka disebut Cina Makao, karena memang berasal dari Makao.

Buruh-buruh Cina tersebut ditempatkan di bedeng-bedeng di kaki Gunung Burangrang. Itulah sebabnya daerah tersebut dinamai Pasir Nagara Cina oleh masyarakat setempat, yang ada kalanya berubah menjadi Garacina.

Selain itu juga Jacobson “menyelundupkan” 15 buruh Cina, termasuk di antaranya 7 orang ahli teh, langsung dari Cina. Dan mereka pun bergabung dengan Cina Makao di bedeng-bedeng Pasir Nagara Cina.

 

Pemberontakan di Purwakarta

Nama Pasir Nagara Cina di daerah Wanayasa, sudah tercatat dalam arsip-arsip Belanda sebelum terjadinya perlawanan Cina Makao di Purwakarta, yang disebut dengan “Perang Cina Makao di Tanjungpura” atau “Karaman di Purwakarta” tahun 1832.

Oleh karena itu, anggapan bahwa penghuni Nagara Cina adalah sisa-sisa “karaman” Cina Makao yang selamat pada peristiwa tersebut, sulit untuk diterima.

Heinrich Christian Macklot, misalnya, salah satu korban Pemberontakan Cina Makao di Purwakarta, dalam laporannya tahun 1831 sempat mengunjungi Pasir Nagara Cina di Wanayasa.

Ketika itu ia masih seorang botanikus, sebelum diangkat menjadi salah saorang Komandan Tentara Hindia Belanda yang ditempatkan di Wanayasa.

Peristiwa Pemberontakan Cina Makao di Purwakarta, menurut beberapa catatan Belanda, terjadi tanggal 8-9 Mei 1832.

Sementara itu Macklot yang terluka parah di daerah Dawuan, akhirnya meninggal dunia tiga hari kemudian di Purwakarta, tepatnya 12 Mei 1832.

Artinya adalah Nagara Cina sebagai nama sebuah tempat di kaki Gunung Burangrang, sudah ada sebelumnya. Dan dihuni oleh orang-orang Cina berasal dari Makao.

Begitu pula dengan Sungai Cikao dan Pelabuhan Cikao. Pelabuhan Cikao sudah disebut-sebut pada abad sebelumnya, antara lain sebagai pelabuhan transit untuk mengangkut kopi dari pedalaman Priangan.

Begitulah cerita tentang sasakala Rancadarah, tempat yang cukup populer di Kabupaten Purwakarta. *

(penulis : Budi Rahayu Tamsyah)

Ayo ke Diorama !

Ingin tahu seperti apa isi Bale Panyawangan Diorama. Yuk kita ke Diorama Purwakarta dan Diorama Nusantara !