Gedung Negara dan Pendopo Kabupaten Purwakarta seluas lebih dari 600 (enam ratus) meter persegi berdasarkan sumber-sumber arsip dan manuskrip yang ditulis tangan oleh Bupati Karawang di Purwakarta, R.A.A. Sastraadhiningrat III (1886-1911) menyebutkan, bahwa bangunan Gedung Pendopo dan Gedung Negara didirikan pada tahun 1857 sampai dengan tahun 1860.
Keduanya sering disebut sebagai Gedung Kabupaten pada masa Kolonial Hindia Belanda, pada masa pemerintah R.A.A. Sastraadhiningrat I (R.A. Sumadipura, R. Sumanegara, Uyang Ayim, Dalem Sepuh), 1854-1863.
Gedung Negara menjadi salah satu sarana pemerintahan Kabupaten Karawang di Purwakarta. Sejak awal dibangun, bangunan ini difungsikan sebagai sarana pemerintahan seiring dengan pembangunan kota Purwakarta sebagai ibukota baru Kabupaten Karawang, di bawah pengawasan Patih Kabupaten Karawang di Purwakarta, R. Tohir Natanegara.
Dengan kata lain, bangunan ini merupakan tonggak sejarah kota Purwakarta. Sedangkan Gedung Negara atau dalam Bahasa Sunda disebut Gedong Nagara berdiri kokoh di tengah lingkungan Pemerintah Kabupaten Purwakarta dengan kondisi yang masih terawat baik. Dahulu merupakan tempat tinggal para Bupati Purwakarta, yang biasa disebut padaleman karena bupati pada waktu itu biasa disebut dalem oleh rakyatnya. Bangunan ini merupakan suatu kesatuan dengan pendopo.
Bahan-bahan atau material pembuatan kedua bangunan gedung itu semua berasal dari sini, seperti batu belah berasal dari batu kali dan pasirnya berasal dari pasir sungai Cikao; kapur juga berasal dari sini; batu-bata merah, ubin merah dan genteng keramik tanah liat dibuat oleh Tio Ahay di Bongas.
Gentingnya besar dan tebal ada 4 kati beratnya (1 kati sama dengan 625 gram, 4 kati sama dengan 2.500 gram atau sama dengan 2,5 kilogram). Orang boleh jalan di atas genteng rumah (gedung pendopo atau gedung negara) tidak pecah.

Foto para pejabat Karesidenan, Bupati Karawang, para Wedana se-Kabupaten Karawang di Pendopo Kabupaten Karawang di Purwakarta, 1925 (Sumber Foto: Koleksi Leiden University Libraries)
Orang Cina tersebut menjual 1.000 genteng dengan harga Nf 30 (30 Nederlandsch florins atau 30 gulden atau 30 rupiah) atau dengan kata lain harga per buahnya senilai Nf 0.03. Jika 1 genteng beratnya sama dengan 2,5 kilogram, maka 1.000 genteng beratnya sama dengan 2.500 kilogram atau sama dengan 2,5 ton.
Kayu-kayu jati (Tectona grandis) untuk atap, kusen pintu, jendela serta tiang pendopo; balok-balok kayu jati diambil dari hutan-hutan Cibungur (Kecamatan Bungursari sekarang), Parakansalam (Kecamatan Pondoksalam sekarang) dan Mangga Besar, juga kayu mangga dan bolang dan lain-lain lagi. Aanemer atau pemborong pemotongan kayu jati adalah orang Cina yang bernama Tjong Asih, ayahnya adalah Wijkmeester Jaliung.
Datangnya di Alun-alun (Alun-alun Kian Santang sekarang), balok-balok kayu jati itu ditarik oleh kerbau-kerbau. Ada balok-balok yang ditarik oleh 10 pasang kerbau atau 20 ekor kerbau.
Tukang ukir tiang pendopo adalah Baksin, orang Palembang. Kaca-kaca dan paku dibeli dari Batavia. Tukang tembok dan tukang batunya adalah Tuan Baas, orang Belanda. Pekerjaan pada waktu itu besar sekali menggunakan tenaga kuli beratus-ratus orang, termasuk yang mencetak batu bata merah, ubin dan genting.
Setelah selesai pembangunannya, maka diselenggarakanlah pesta besar-besaran dan segala macam jenis hiburan ada.
Gedung Negara dan Pendopo Kabupaten terus dipergunakan sejak 1860 hingga 1948 karena pusat pemerintahan Kabupaten Karawang Timur di Purwakarta dipindahkan ke Subang sejak tanggal 01 April 1948. Area pemerintahan ini sejak tidak digunakan lagi, sempat kosong, kemudian digunakan untuk keperluan sebagai markas tentara dari Teritorium Tentara III/Siliwangi kemudian berubah menjadi Komando Daerah Militer III/Siliwangi, yaitu Brigade 23/Siliwangi yang berganti nama menjadi Resimen Infanteri 7/Siliwangi, Komando Resort Militer Purwakarta yang kemudian berganti nama menjadi Brigade Infanteri XIV/Mesabarwang hingga pembetukan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang terhitung sejak tanggal 29 Juni 1968. Eks anggota-anggota Brigade Infanteri XIV/Mesabarwang disalurkan ke dalam Komando Distrik Militer 0619/Purwakarta semenjak 24 Mei 1975.

Foto para pejabat Karesidenan, Bupati Karawang, para Wedana se-Kabupaten Karawang di Pendopo Kabupaten Karawang di Purwakarta Tahun 1925 (Sumber Foto: Koleksi Leiden University Libraries)
Kedua gedung kabupaten tersebut berturut-turut pernah dihuni oleh para bupati sebagai berikut: R.A.A. Sastraadhiningrat I (1854-1863), R.A.A. Sastraadhiningrat II (1863-1886), R.A.A. Sastraadhiningrat III (1886-1911), R.T.A. Gandanegara (1911-1925), R.A.A. Suriamiharja (1925-1942), R. Pandu Suradhiningrat (1942-1945) dan R.T. Juwarsa (1945-1948).
Kemudian setelah ibukota Kabupaten Karawang Timur (Purwakarta) dipindahkan dari Purwakarta ke Subang, maka untuk kurun waktu antara tahun 1948-1968 kedua gedung kabupaten ini pernah digunakan sebagai Markas Brigade Infanteri XIV Mesa Barwang Divisi/Kodam Siliwangi yang beberapa orang komandannya dikenal sebagai: Achmad Kemal Idris, Letjen TNI (Purn.) (1949-1955), Poniman, Jend. TNI (Purn.) (1959-1962), Tarmat Widjaja, Brigjen TNI (Purn.) (1964) dan Willy Gayus Alexander Lasut, Brigjen TNI (Purn.) (1968-1970).
Kemudian setelah diundangkannya Undang Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1968 tentang Pembentukan Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang, dimana Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang beribukota di Subang, maka kedua gedung dihuni kembali oleh para bupati sebagai berikut: H.R. Suria Sunarya Ronggowaluyo (1968-1969), R. Muchtar (1969-1979), H.R.A. Abubakar (1979-1980), Drs. Mukdas Dasuki (1980-1982), H.R.A. Abubakar (1982-1983), Drs. H.R. Soedarna Tresnamanggala, S.H. M.Si. (1983-1993), Drs. H. Bunyamin Dudih, S.H. (1993-2003), Drs. Tb. H. Lily Hambali Hasan, M.Si. (2003-2008) H. Dedi Mulyadi, S.H. (2008-2018) dan Hj. Anne Ratna Mustika, S.E.

Foto Pendopo Kabupaten Karawang di Purwakarta, Gedung Negara dan Alun-alun, 1910. (Sumber Foto: Koleksi Leiden University Libraries)
Gedung Pendopo dan Gedung Negara hingga kini masih terjaga dan berfungsi dengan baik. Kini keduanya difungsikan sebagai Kantor Bupati dan Wakil Bupati. Lokasinya berada di Jl. Ganda Negara Kaum RT 43 RW 02 Kelurahan Sindangkasih, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta.
Yah keramaian semacam ini hampir dapat dipastikan selalu ada sepanjang tahun. Seperti yang dituturkan oleh R. Soeria di Radja dalam kenangannya yang berjudul Lebaran di Poerwakarta. Kejadiannya diperkirakan pada tahun 1912-1917 pada masa pemerintahan Bupati Karawang di Purwakarta R.T.A. Gandanegara (1911-1925 M). Kenangannya dalam bahasa Sunda:
“……… Aloen-aloen heurin oesik koe djelema kenging darangdan sataker tanaga, maridang paginding-ginding. Pategep-tegep, badjoe anjar samping weuteuh. Kamonesan tongtonan roepi-roepi, ngadoe domba, ngadoe bagong, maen reboetan, balap djeung sateuroesna. Wengina di aloen-aloen pinoeh koe tatanggapan, emprongan ronggeng (ronggeng mamaroeng), topeng djeung sateuroesna. ………”
Terjemahannya dalam bahasa Indonesia:
” ……… Alun-alun penuh sesak oleh manusia dapat berdandan sekuat tenaga, berlomba-lomba berbusana dengan serapi-rapinya. Saling bergagah-gagahan, baju baru kain baru. Kemeriahan tontonan beraneka-macam, mengadu domba, mengadu babi hutan, bermain rebutan, balapan dan seterusnya. Pada malam harinya di alun-alun penuh dengan hiburan-hiburan, menanggap penari ronggeng, topeng dan seterusnya. ………”
(R.M.A. AHMAD SAID WIDODO, Peneliti dan Penulis Sejarah Purwakarta).


