Preangerstelsel (bahasa Indonesia: Sistem Priangan) adalah tanam paksa kopi yang diberlakukan di wilayah Parahyangan pada tahun 1720. Rakyat diwajibkan menamam kopi dan menyetorkan hasilnya ke VOC melalui para bangsawan daerah. Hal ini sangat menguntungkan bagi Belanda dan membuat VOC menjadi produsen kopi terpenting di dunia, dengan kopi sebagai komoditas ekspor paling menguntungkan dari Jawa hingga pertengahan abad ke-19. Kebijakan ini kemudian juga mengilhami lahirnya Cultuurstelsel atau Tanam Paksa pada tahun 1830 – 1870 yang diberlakukan pada wilayah yang lebih luas dengan komoditas tanam yang lebih beragam. Kebijakan Preangerstelsel berlangsung hingga 1916.

Cultuurstelsel (secara harfiah berarti Sistem Kultivasi atau secara kurang tepat diterjemahkan sebagai Sistem Budi Daya) yang oleh sejarawan Indonesia disebut sebagai Sistem Tanam Paksa adalah peraturan yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830 yang mewajibkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya (20%) untuk ditanami komoditas ekspor, khususnya teh, kopi dan kakao. Hasil tanaman ini akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan dan hasil panen diserahkan kepada pemerintah kolonial. Penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun (20%) pada kebun-kebun milik pemerintah yang menjadi semacam pajak.

Potret para pemetik daun teh di Priangan Jawa-Barat sekitar tahun 1920

Potret para pemetik daun teh di Priangan Jawa-Barat sekitar tahun 1920

Tanah partikelir (Bahasa Belanda: particuliere landerijen atau particuliere landen) adalah bentuk kepemilikan tanah bersistem feodal yang diterapkan di sebagian Hindia Belanda (kini Indonesia). Hukum Belanda mendeskripsikan tanah partikelir sebagai ‘daulat’ dan status hukumnya mirip dengan Vorstenlanden yang berada di bawah Kerajaan Belanda. Pemilik tanah partikelir disebut sebagai “tuan tanah” (Bahasa Belanda: landheer) dan memegang “hak-hak ketuanan” (Bahasa Belanda: landsheerlijke rechten) atas penduduk di tanah tersebut, yang biasanya dipegang oleh pemerintah.

Bagaimana dengan keberadaan tanah-tanah perkebunan di wilayah Kabupaten Karawang pada jaman dahulu yang kini menjadi Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang? Dan perusahaan mana saja yang berjaya dalam pengusahaan perkebunan tersebut? Dan komoditas apa saja yang diproduksi dari perkebunan-perkebunan tersebut? Berikut ini adalah nama perkebunan dan komoditasnya:

 

  1. Bodjong: Karet
  2. Boekanegara: Kina dan Teh
  3. Djaloepang: Karet
  4. Djati Loehoer: Karet
  5. Experiment Garden: Karet
  6. Gempolsari: Karet
  7. Goenoeng Anaga: Karet
  8. Goenoeng Karet: Karet
  9. Hoeve Regulus: Karet
  10. Kasomalang: Karet dan Teh
  11. Kembang Koening: Karet
  12. Koekoekloe: Karet
  13. Langen Hardja: Karet
  14. Manaos: Karet
  15. Manjingsal: Karet dan Kopi
  16. Metawatie: Karet
  17. Pasir Boengoer: Kapuk, Karet dan Kopi
  18. Pasir Carolina: Karet
  19. Pasir Madang: Karet dan Kopi
  20. Pasir Moentjang: Karet
  21. Pasir Pasemoenan: Karet
  22. Poetjoeng: Karet
  23. Pondok Gedeh: Karet
  24. Rahajoe: Kopi
  25. Rawah Domba: Karet
  26. Sariredja: Teh
  27. Selawangi: Teh
  28. Serangsari: Karet dan Teh
  29. Sindangpanon: Karet, Kina, Kopi dan Teh
  30. Soebang: Karet dan Kopi
  31. Soekadingin: Teh
  32. Soekamandi: Karet dan Serat Sisal
  33. Soemoer Barang: Karet
  34. Soemosor: Teh
  35. Tambakan: Teh
  36. Tamboen: Karet
  37. Tamiang Koening: Karet
  38. Tegal Harendong I: Karet
  39. Tegal Harendong II: Karet
  40. Tegalwaroelanden: Karet, Kina dan Teh
  41. Telok Poetjoeng: Karet, Kelapa dan Padi
  42. Tendjo Laja: Karet dan Teh
  43. Tinggardaja: Teh
  44. Tjakoeng: Karet dan Padi
  45. Tjiater: Karet, Kopi dan Teh
  46. Tjibening: Karet dan Kelapa Sawit
  47. Tjidahoe: Karet
  48. Tjigadjah: Karet
  49. Tjigaroekgak: Karet
  50. Tjikadoe: Karet
  51. Tjikembang: Karet dan Teh
  52. Tjikoempaj: Karet
  53. Tjiloetoeng: Karet
  54. Tjipeo: Karet dan Teh
  55. Tjipeundeuj: Karet dan Kopi
  56. Tjipinang: Karet
  57. Tjiselang: Karet
  58. Tjitjadas: Karet
  59. Tjoeroeg: Karet dan Teh
  60. Wangoenredja: Karet
  61. Wangoenredja Selectie Tuinen: Karet

 

(R.M.A. AHMAD SAID WIDODO, Peneliti dan Penulis Sejarah Purwakarta)

Ayo ke Diorama !

Ingin tahu seperti apa isi Bale Panyawangan Diorama. Yuk kita ke Diorama Purwakarta dan Diorama Nusantara !