Tanah air kita Indonesia (dahulu disebut sebagai Nusantara dan Hindia Belanda atau Nederlansche Indiesche). Sudah sejak tahun 1696 tanaman kopi dibudidayakan di tanah air kita. Wilayah-wilayah penamaan kopi adalah Priangan (Jawa Barat), beberapa diantaranya adalah Cianjur, Kampung Baru (Bogor, Buitenzorg), Sukabumi, Bandung, Sumedang, Garut, Sukapura (Tasikmalaya), Karawang (di Wanayasa dan sekitarnya) dan Subang.
Gouverneur Generaal van Vereenigde Oostindische Compagnie Mattheus de Haan (1725-1729) atas inisiatif Bupati Bandung Tumenggung Anggadireja I (1704-1747) memulai apa yang disebut koffietransport dengan menggunakan hewan beban, biasanya kerbau atau sapi. Kopi-kopi dari daerah ini pada awalnya dibawa dengan hewan beban (kerbau, sapi dan kuda), rata-rata selama 60-72 (enam puluh sampai dengan tujuh puluh dua) hari.

Foto Pedati Kerbau dan Kusir Pedati yang biasa digunakan untuk mengangkut kopi
dari daerah penghasil kopi ke Gudang Kopi Cikao.
Koleksi Leiden University Libraries.
Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal VOC Mattheus de Haan itu, dia minta agar para tenaga kerja (kuli) untuk membawa kopi dari Bandung, Parakanmuncang dan Sumedang ke Gudang Kopi Cikao, yang dibangun pada tahun 1744, pada saat itu masih wilayah Kabupaten Bandung.
Setelah jalanan semakin baik, maka kopi-kopi kemudian dibawa dengan pedati-pedati kerbau dan sapi menuju ke Batavia (Jakarta) dengan perantaraan perahu-perahu berdayung dan/atau bertiang layar tunggal dan dengan layar tunggal berbobot hingga bisa lebih dari 100 (seratus) ton.
Menghiliri Sungai Citarum dari arah hulu hingga tiba di hilir (muara), dari mulai Cikaobandung hingga ke muara Ujung Karawang (sekarang wilayah Muara Gembong, Kabupaten Bekasi), kemudian hingga ke Batavia untuk selanjutnya diekspor ke luar negeri, seperti ke negara-negara di benua Eropa dan Amerika.

Peta Gudang Kopi dan Pelabukan Kopi Cikao. Koleksi Arsip Nasional Republik Indonesia dari koleksi Frederik de Haan

Ukuran Gudang Kopi (Koffiepakhuis) berdasarkan Peta Cikao, 1840.
Perjalanan pengiriman kopi dari gudang kopi (koffie pakhuis) di Cikao ke Batavia dengan menggunakan perahu-perahu yang disewa oleh Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda, yaitu Bataaviasch Prauwen Veer (BPV) memerlukan waktu selama 8 (delapan) hari, bandingkan dengan jika kita menggunakan kereta kuda pos dari Purwakarta ke Batavia hanya memerlukan waktu selama 2-3 (dua sampai tiga) hari sekali jalan. Hanya saja perjalanan dengan kereta kuda harus sambung menyambung dan setiap 10 pal (15 km) kuda-kuda pos harus diganti dengan kuda-kuda yang lain yang lebih segar.

Foto Tjikao Koffiepakhuis – Gudang Kopi Cikao, 1880. Koleksi Leiden University Libraries.
Cikaobandung dahulu pernah menjadi wilayah Kabupaten Bandung, kemudian menjadi wilayah Kabupaten Karawang dan sekarang menjadi wilayah Kabupaten Purwakarta. Cikaobandung adalah sebuah wilayah desa di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat.

Foto Tjikao Koffiepakhuis – Gudang Kopi Cikao, 1880. Koleksi Leiden University Libraries.
Cikaobandung adalah sebuah wilayah desa di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Perkebunan tanaman kopi di wilayah Jawa Barat sudah ada sejak jaman Preangerstelsel (1677-1870), Cultuurstelsel (1830-1870) dan jaman particulair onderneming (1870-1942).
Tokoh Sejarah Berkaitan dengan Gudang Kopi (Koffie Pakhuis) Cikao 1830-1832
1. Bupati Bandung: Raden Adipati Aria Wiranatakusumah III, Dalem Karanganyar (1829-1846).
2. Patih Bandung: Raden Aria Adinegara.
3. Wedana Cikao: Raden Rangga Anggadireja.
4. Koffie Pakhuis Mester: Tuan Diblot (de Blote).
5. Juru Tulis Semua Gudang: Seorang Belanda
6. Pengawas Gudang Kopi: Raden Rangga Anggadireja.
7. Kumetir Kopi: Raden Aria Adinegara (kemudian menjadi Patih Bandung) dan Raden Aria Wiratmaja.
8. Juru Tulis Kopi: Seorang “Raden” dari Bandung dan Raden Isa dari Cianjur.
9. Pengawas Gudang Gula: Seorang Cina.
10. Pengawas Gudang Garam: Tidak diketahui namanya.
11. Alim Ulama: K.H.R. Asy’ari (≤ 1800-1870).
Benda Peninggalan Sejarah/Benda Cagar Budaya (Heritage) di Cikao
1. Gudang Kopi (Koffie Pakhuis) Cikao (dibangun tahun 1744).
2. Dermaga Syahbandar, Kp. Talibaju, Ds. Cikaobandung.
3. Masjid Jami’ Al Ashraff (diresmikan pada tahun 1275 Hijriyah atau 1859 Masehi).
4. Makam K.H.R. Asy’ari, Guru Tonggoh (wafat pada tahun 1870).
5. Makam para ahli waris K.H.R. Asy’ari dan para menak Cikaobandung.
Ukuran Area Gudang Kopi Cikao (Koffie Pakhuis) di antara Sungai Cikao dan Sungai Citarum
1. Peta tahun 1840.
2. Skala 8,50 cm = 30,00 m.
3. Perkiraan panjang lokasi 45,20 cm = 159,55 m.
4. Perkiraan lebar lokasi 19,50 cm = 68,82 m.
5. Perkiraan luas lokasi = 10.980,23 m² atau 1,1 ha.
6. Perkiraan keliling lokasi berdasarkan Google Earth/Google Maps/Wikimapia = 320,27 m
7. Perkiraan luas lokasi berdasarkan Google Earth/Google Maps/Wikimapia = 6.113,30 m²
8. Perkiraan titik koordinat lokasi berdasarkan Google Earth/Google Maps/Wikimapia = -6.490160, 107.384363.

Foto Tjikao Koffiepakhuis – Gudang Kopi Cikao, 1880. Koleksi Leiden University Libraries.
(R.M.A. AHMAD SAID WIDODO, Peneliti dan Penulis Sejarah Purwakarta).


