Cikao Bandung, adalah salah satu nama desa di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Mungkin masih banyak masyarakat yang belum tahu jika kawasan pedesaan yang lokasinya (saat ini) persis berada di bawah Bendungan Ir H Djuanda (Jatiluhur) itu banyak menyimpan sejarah peradaban masa lalu.
Konon, Cikao Bandung sempat termashyur. Bahkan, desa tersebut jauh lebih terkenal ketimbang Kabupaten Purwakarta. Memang apa sih yang membuat desa tersebut termasyur hingga saat ini? Ya, salah satunya terkenal karena kerajinan perahunya.
Seperti diketahui, Perahu merupakan salah satu alat transportasi air tradisional yang terbuat dari pilahan kayu. Sejauh ini, mungkin alat transportasi tersebut masih menjadi salah satu andalan keperluan mobilitas warga. Apalagi, bagi mereka yang bermukim di sekitar bantaran sungai ataupun danau buatan.
Dilansir dari berbagai sumber, Desa Cikao Bandung dulunya merupakan pusat Kerajinan perahu terbesar di zamannya. Dari cerita warga sekitar, sebelum banyak kendaraan bermotor seperti sekarang ini, perahu merupakan satu-satunya alat transportasi yang paling digemari masyarakat di wilayah itu.
Apalagi, saat itu Sungai Cikao menjadi satu-satunya akses penghubung antara Batavia dengan Purwakarta dan daerah sekitarnya. Jadi, perahu merupakan satu-satunya alat transportasi massal yang dugunakan kala itu.
Selain itu, konon di Cikao Bandung dulu ada kawasan dermaga pelabuhan. Lokasinya, ada di Kampung Talibaju. Sehingga kala itu, Cikao Bandung menjadi wilayah paling ramai disinggahi oleh para pedagang dan saudagar dari luar daerah, hingga luar negeri.
Menurut sejarahnya, Kampung Talibaju, Desa Cikao Bandung merupakan titik pengiriman berbagai komoditas hasil alam untuk dikirim ke wilayah utara yang melalui Muara Gembong, Kabupaten Bekasi untuk selanjutnya ke Laut Jawa. Sayangnya, kepopuleran Dermaga Cikao pada masal lalu itu tidak menyisakan jejak apapun sebagai bukti.
Beruntung, saat ini masih ada dokumen berupa peta, catatan, buku, aturan-aturan, dan foto-foto yang dibuat pada masa kolonial dan disimpan dengan sangat baik oleh Pemerintah Belanda dan ANRI. Sehingga, kita tidak kehilangan sejarah tentang perkonomian dan perdagangan di pinggiran sungai tersebut.
Sumber lain juga menyebutkan, Toponim Cikao sudah populer sejak abad ke-17. Konon, Dermaga Cikao merupakan titik simpul pengiriman komoditas yang dihasilkan dari wilayah Priangan yang bergunung-gunung, dan komoditas yang dihasilkan atau dibawa dari arah laut.
Beberapa komoditas yang dipasarkan dan dibawa melalui jalur air ini, di antaranya biji kopi, nila, dan kapas yang dikirim ke Batavia. Sejarah itu diperkuat dengan adanya berita yang ditulis oleh Jacob Wouter de Klein (1931), Het Preangerstelsel (1677-1871).
Tak hanya itu, pada 29 November 1804, Van Lawiek juga menulis surat kepada P Engelhard yang berisi tentang pembangunan kebun kopi. Dalam suratnya menuliskan antara lain tentang pengiriman garam melalui Cikao. Berikut kutipannya. “Saya telah mengirimkan beberapa coyang garam dari Cikao ke berbagai distrik di tiga kabupaten.” (Dr F Dehaan, 1912). Priangan, De Preanger Regentschappen onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811).
Dengan adanya bukti sejarah itu, sudah sangat jelas jika Dermaga Cikao bukan saja menjadi tempat pengiriman komodias hasil bumi dari pedalaman Priangan melalui aliran Sungai Citarum, tapi juga menjadi titik awal distribusi komoditas yang tidak bisa diproduksi di pegunungan, seperti garam.
Apalagi, dalam Bataviaasch handelsblad (11-03-1868) melaporkan tentang tarif pengangkutan produk milik Pemerintah dari Cikao ke Batavia, dan garam dari Pakis ke Cikao. Dokumen tersebut, menjadi bukti jika Cikao menjadi jaur utama transportasi air kala itu.
Selain dermaga, konon di Cikao Bandung juga terdapat gudang untuk menyimpan hasil alam yang akan dikirim ke berbagai daerah. Salah satunya, gudang untuk menyimpan komoditas kopi. Sehingga, saat itu dermaga Cikao juga ramai dengan adanya kegiatan bongkar-muat.
Sejarah itu diperkuat dengan adanya surat peringatan untuk para kepala gudang di berbagai dermaga sudah. PH Vander Kemp (1916) mengutip peringatan itu yang ditujukan kepada para pengelola gudang di Buitenzorg, Cikao, Karangsambung, dan Indramayu. Dalam peringatan itu, mereka harus bertanggung jawab secara pribadi, dengan subordinasi kepada dewan keuangan, dan akuntabilitas kepada akuntan (Java’s Landelijk Stelsel 1817—1819 Naar Oorspronkelijke Stukkendoor).
Adanya gudang-gudang tersebut, konon karena saat itu armada perahu dalam mengangkut komoditas dari Dermaga Cikao menuju Batavia jumlahnya masih terbatas dan mengakibatkan adanya penumpukan barang sehingga harus diangkut pada tahun berikutnya.
Karena komoditas itu tidak dapat diekspor, Residen Batavia Van Der Vinne mengeluarkan pengumuman, seperti yang dimuat dalam Javasche Courant (01-03-1832), bahwa pada bulan Maret akan melelang gula aren yang masih tersisa dari tahun 1832, yang barangnya akan diserahkan di gudang Cikao. Syarat dan ketentuannya dapat dibaca di sekretariat Residen Buitenzorg, Karawang, Preanger, dan di kepala gudang Cikao.
Jadi bisa dibayangkan, betapa sibuknya situasi Kampung Talibaju dan Cikaobandung pada abad ke-19. Dari arah pegunungan, berdatangan para pemikul kopi, kerbau, atau kuda yang dipunggungnya ditumpuk beberapa karung kopi.
Dari dalam gundang diangkut berkarung-katung kopi, nila, gula merah, untuk diberangkatkan menuju Muaragembong atau Cabangbungin. Perahu yang baru datang membawa garam dan komoditas lainnya untuk didistribusikan ke daerah pegunungan.
Dengan adanya bukti-bukti sejarah itu, sangat jelas jika Dermaga Cikao merupakan simpul kegiatan ekonomi yang mempertalikan perdagangan komoditas dari pegunungan dan komoditas dari laut.
Kembali membahas kemasyuran Desa Cikao Bandung dengan sebutan Kampung Perahu, mungkin banyak yang bertanya-tanya bagaimana sih awal mulanya?
Merujuk dari cerita masyarakat setempat, masyarakat Cikao Bandung tertarik dengan membuat perahu sejak desa ini menjadi pelabuhan. Konon, saat itu hampir semua kepala keluarga (KK) mampu membuat perahu. Selain digunakan sendiri, perahu tersebut banyak diminati oleh pembeli dari luar.
Ketertarikan warga untuk membuat transportasi ini berawal dari meniru perahu yang singgah di Dermaga Cikao dan hingga akhirnya keterampilan membuat perahu pun dikuasai oleh masyarakat sekitar. Saat itulah, perahu Cikao banyak dicari orang dari peloksok daerah. Sehingga, Cikao Bandung juga terkenal dengan sebutan Kampung Perahu.

Gambar : Gudang kopi dan tongkang di cikaobandung, tahun 1880.
Namun, saat ini sebutan kampung perahu ini pun sirna seiring dibangunnya Bendung Walahar (Karawang) pada 1918 silam. Sehingga, arus air dari Sungai Citarum menuju hilir menjadi tertutup dan perahu tak bisa lagi menyusuri Sungai Citarum yang tembus ke Sungai Cikao.
Sejak saat itu, Sungai Cikao mulai sepi dari arus lalulintas perahu. Adapun perahu yang masih bertahan, adalah perahu yang mengangkut pasir ataupun bambu. Itupun, penggunanya adalah masyarakat di sekitar bantaran sungai tersebut.
Selain karena aksesnya tertutup, saat ini kondisi sungai juga telah mengalami perubahan, karena terjadi pendangkalan dan sedimentasi.
Kedua hal itu, membuat lesunya usaha kerajinan perahu yang sebagian besar menjadi mata pencaharian masyarakat Cikao Bandung saat itu. Konon, masa kejayaan perahu Ciako pun mulai redup sejak 80-an.
Seiring berjalannya waktu, masa kejayaan perahu Cikao pun sirna. Satu persatu, para perajin penerus yang ada di desa itu memilih gulung tikar. Saat ini, jumlah perajin penerus yang masih bertahan bisa dihitungan jari.
Awal 1990, usaha perahu yang digeluti masyarakat Cikao Bandung semakin mengalami kemunduran parah. Hal itu, menyebabkan kerajinan perahu tak lagi diminati oleh generasi penerus karena prospeknya dianggap kurang menjanjikan.
Minimnya order kala itu, membuat para perajin berkurang bahkan ada dari sebagian perajin perahu tersebut sudah banyak yang meninggal.
Kondisi redupnya nama Kampung Perahu ini juga diperparah dengan sepi order dan tak berminatnya generasi muda terhadap kerajinan perahu. Makanya, keberadaan kampung parahu ini bak pribahasa ‘hidup segan mati tak mau’. ***


